Ulasan ini sebenarnya adalah surat keluhan dan saran tertulis yang saya tuju ke CS KAI lewat email, namun saya tambahkan detailnya sehingga bisa dibaca dalam bentuk cerita, bukan surat formal, sehingga bisa dibaca.
Pada pertengahan tahun saya penasaran dengan kereta Luxury yang baru diluncurkan, dan harapan saya terkabul akhirnya ada kereta 'mewah' yang melayani jalur selatan seperti Yogyakarta dan Malang. Setelah ada kesempatan akhirnya saya menyempatkan diri untuk mencoba.
Berangkat dari Yogyakarta (padahal beli tiket dari Klaten dan ternyata tidak masalah), posisi gerbong ada di paling belakang rangkaian kereta api Argo Dwipangga, serasa naik Bogowonto kelas eksekutif yang posisinya di paling belakang rangkaian kereta, tetapi lucunya dia tidak ada pintu sehingga harus melewati gerbong eksekutif biasa (gerbong sembilan).
Dan ini tidak enak, karena gerbong yang dapat di urutan paling depan atau belakang rata-rata tidak ada kanopi/atap pada peron stasiunnya, sehingga kalau hujan maka siap-siap saja penumpang Luxury akan kebasahan.
Yang kedua adalah posisi gerbong terlalu jauh dari gedung stasiun, baik itu di Gambir, Pasar Turi, Yogyakarta, Jatinegara, Purwokerto dan lain-lain yang mengakibatkan penumpang harus jalan kaki lumayan jauh dari pintu masuk/keluar dan mustahil mau beli barang ke minimarket stasiun ketika kereta sedang berhenti karena posisi kereta terlalu jauh dari gedung stasiun, dan takutnya begitu turun malah ditinggal dikarenakan pemberhentian kereta eksekutif apalagi yang gandeng Luxury adalah kereta argo yang tidak akan berhenti lama-lama di stasiun tengah-tengah seperti Purwokerto atau Cirebon. Lebih baik beli minum di restorasi saja.
Sedangkan yang ketiga adalah tetap sama yaitu masalah jauh juga, tetapi kali ini adalah jarak dari gerbong Luxury ke gerbong restorasi yang amat jauh. Dikarenakan makanan di dalam kereta Luxury hanya dijatah sekali dan kalau masih lapar atau haus dan hendak menambah makanan, maka kita harus membeli makan lagi di restorasi yang konsekuensinya adalah penumpang harus jalan jauh menuju gerbong restorasi yang harus melewati 4-5 gerbong ke depan dan itu sangat melelahkan. Pramugari kurang bisa diandalkan, dan jika mau beli di makan/minum di stasiun ketika kereta berhenti sejenak menurut saya tidak bisa dan kembali ke poin kedua.
_______
Saya mendapatkan tempat duduk nomor 9 dan ternyata dapatnya dekat toilet dan paling depan kalau dari arah Yogyakarta ke Jakarta (tidak tahu jika arah sebaliknya), untung tidak jadi tukang tutup pintu, dan seat pitch benar-benar sangat luas, tetapi terlalu luas.
Interior kereta saya akui terlihat lebih mewah dibanding Luxury 1 karena aksen kayunya lebih banyak dan lampu serta detailnya terlihat bagus walau tidak semewah Priority, apalagi digandeng dengan rangkaian Argo Dwipangga tahun 2016 (bukan yang stainless) yang finishing nya masih kurang rapi terutama di toilet yang masih terkesan bentuk toilet kereta tahun 80-an (yang sekarang lebih baik seperti pesawat) serta lampu remang-remang, kereta rangkaian yang saya naiki ini jadi terasa "luxury" sekali dibanding kereta eksekutif biasa.
Perbedaan dari kereta yang generasi sebelumnya adalah di bagian belakang kereta ada tempat duduk pramugari dengan termos besar yang mungkin digunakan untuk teh dan kopi. (Gambar bawah bagian kanan).
Kursi
Kursinya tidak seperti di Luxury 1 yang benar-benar bisa direbahkan dan lebih luas seperti kelas bisnis pesawat Garuda yang diamond, kursi di Luxury 2 lebih kecil dan jika untuk duduk biasa rasanya masih nyaman karena ada footrest untuk sandaran betis (bukan untuk telapak kaki) yang bisa dikontrol dengan menggunakan tombol elektrik yang tentunya serasa naik kelas bisnis pesawat jarak dekat seperti Garuda di 737 nya.
Namun jika untuk tidur saya rasa kurang nyaman karena pijakan kakinya nanggung karena hanya bisa menyandarkan betis saja tetapi telapak kaki menggantung di atas sehingga saya ketika tidur harus menekuk kaki, kursi pun tidak bisa direbahkan sebagaimana flat-bed, mungkin tidak terlalu rebahan mungkin kursinya ketika dimundurkan beda tipis kemiringannya dengan kereta eksekutif biasa, yang tentunya tidak seperti kursi di kelas bisnis pesawat Garuda jarak jauh di A330/B777 nya atau pesawat besar lain, bahkan seperti di Luxury 1.
Untuk tidur masih jauh enak kelas eksekutif biasa karena kaki bisa menyentuh di footrest yang ada di depan kursi walau betisnya yang gantung jadi rasanya tetap nyaman, kalau ini kebalikannya karena kaki menggantung dan hanya betis yang bersandar jadi tidak nyaman. Juga terdapat lampu baca, untuk menghidupkan bisa ditekan tombol hitam kecil pada kepala lampu.
PENTING : Sama seperti memilih kelas eksekutif biasa, jangan pilih baris depan ! Karena untuk row/baris depan, tidak ada remote /controller untuk hiburan yang ada di depan layar jadi untuk mengakses layar harus disentuh, dan jarak dari tempat duduk ke televisi sangat jauh dan hampir 1,5 meter, sangat menyulitkan, melihat saja sudah susah karena tulisannya terlalu kecil dan menonton film pun tidak jelas, apalagi mengontrol televisi, ya kali saya harus berdiri setiap saat untuk mengganti lagu/film.
Coba, PR banget kan mau ganti channel saja harus berdiri dahulu?
Makanan
Masih sama seperti KA Luxury 1 di Argo Bromo Anggrek, makanan disajikan dengan kotak putih seperti karton, agak letoy dan serasa beli makanan di fast food, tidak ada kesan mewahnya. Semestinya penyajian makanan harusnya ditata dengan mewah atau lebih rapi, namun lagi-lagi tidak berubah dari yang sebelumnya, pengemasannya sama sekali tidak ada unsur “luxury“-nya, saya kira makanan akan dihidangkan pakai piring dan gelas atau setidak-tidaknya di kotaknya ada tulisan “luxury” dan dijadikan satu baki/tray sebagaimana di kereta Priority atau di pesawat full-service jadi terlihat lebih spesial dan berkelas, namun kenyataannya tidak. Tidak beda dengan kereta biasa cuma bedanya dapat makan tok dan kurang sreg kalau ini disebut ‘luxury’.
Bahkan kemasan makanan yang dibuat oleh anak perusahaan KAI, Reska pada kelas lain jauh lebih bagus kemasannya karena menggunakan bahan plastik yang lumayan keras dan tidak letoy seperti ini. Semoga bisa dibenahi.
Saya mendapatkan menu ayam goreng tepung dengan nasi dan beberapa pelengkap seperti kerupuk , sayur dalam plastik klip, serta sambal biasa dan sambal mie (yang encer), saya mencoba rasanya semrawut, tidak enak sama sekali, ayamnya keras, nasinya dingin dan keras, sayurnya susah dibuka karena klipnya robek itupun rasanya juga hambar dan pahit, benar-benar buruk sekali. Yang enak hanya sambal dan kerupuk Fina, selebihnya parah. Lebih enak makan di ekonomi karena langsung panas dan lebih lezat. Saya tidak tahu ini kenapa tidak dipanaskan dahulu sebelum dihidangkan, sangat tidak pantas disebut kelas luxury.
Makanan disajikan dengan cemilan kacang kemasan dan pudding, tetapi tidak ada minum jus kemasan namun digantikan dengan teh.
Pelayanan
Masih tentang makanan juga, tetapi dari segi pelayanan dan ini penting, bagaimana bisa makanan dihidangkan pada waktu menjelang pukul sebelas malam, ketika orang pulas-pulasnya lagi tidur dan sedang enak tidur dibangunkan cuma perihal pramugari menanyakan mau minum teh atau kopi, beberapa waktu kemudian belum cukup sekali, lagi-lagi penumpang dibangunkan karena pramugari hendak memberi makan malam untuk penumpang, dan yang konyol saya lupa dikasih alat makan dan teh pun datang agak lama (tinggal beberapa kilometer sampe Purwokerto).
Akhirnya teh pun datang dan untungnya mata saya tidak terlelap karena sedang makan, jadi saya bisa menerima gelasnya, dan yang mengenaskan saya melihat sebelah saya dibangunkan lagi (jadi total 3 kali) hanya untuk memberikan gelas teh/kopi nya. Ini bener-benar tidak bisa ditoleransi, saya dan penumpang lain terasa sangat terganggu ! Saya lihat tetangga saya mukanya langsung pucat karena dibangunkan ketika lagi pulas-pulasnya, dan saya juga jadi susah tidur kepala pusing.
Saran : Menurut saya ada beberapa opsi, opsi pertama seharusnya makanan dan minuman pendukung (teh/kopi) sudah diedarkan pada pukul sembilan malam ketika kereta baru beranjak dari Yogyakarta, jadi penumpang yang sudah naik dari Solo/Klaten/Yogyakarta bisa menyantap makan malam ketika hidangan tersebut ketika makanan masih hangat dan sebagian besar penumpang tentunya masih belum pada terlelap tidur dan juga jumlah penumpangnya tentunya sudah lumayan banyak karena berangkat dari kedua kota besar kecuali Klaten, jadi pramugari bisa langsung mengedarkan makanan sekaligus ke semua penumpang yang ada dengan menggunakan troli/cart seperti di Luxury 1 (tidak satu-satu diantar seperti di Luxury 2) jadi lebih praktis. Dan semestinya pramugari bisa menanyakan pilihan teh/kopi tidak lama ketika kereta berangkat jadi dia bisa mendata dan menyiapkan dengan lebih baik.
Jika ada penumpang yang naik dari Kutoarjo/Purwokerto/dan setelahnya, pramugari bisa langsung bertanya ke penumpang (ketika kereta sudah berangkat kira-kira 5 menit) untuk minum teh atau kopi, dan dalam jangka waktu sebentar juga pramugari bisa memberikan makanan ke penumpang tersebut dengan sigap ketika penumpangnya masih terbangun, diberikan makanan nya termasuk teh/kopinya, jadi penumpang tidak akan terganggu.
Atau opsi kedua bisa juga diterapkan sebagai berikut, yaitu setiap penumpang diberi pilihan tanda "wake up for meal" or "don't disturb" , (seperti di pesawat Emirates), jadi penumpang bisa memilih dibangunkan untuk makan malam, atau tidak mau tidurnya diganggu sama sekali jadi makananannya ditaruh dalam suatu wadah, tanda tersebut bisa diberikan dengan menempelkan stiker di kursinya, jadi pramugari tahu. Hanya menurut saya opsi pertama lebih masuk akal.
Toilet
Toilet sudah lebih bagus karena lebih besar dari Luxury 1 karena ukurannya lebih besar (seperti kereta ekonomi/eksekutif di gerbong tengah yang biasa untuk kursi roda), kloset benar-benar asli (bukan besi), dan ada beberapa sudut cermin, walaupun lainnya masih sama seperti kereta lain serta terdapat meja kecil yang bisa digunakan untuk menaruh barang, namun jika dihias sedikit mungkin lebih indah (seperti bunga-bunga palsu, penambahan aksen interior yang tak perlu mahal seperti aksen kayu atau batu alam agar terlihat lebih lux, wewangian dan sabun yang lebih bagus sebagaimana kelas bisnis di pesawat, ingat ini bukan kereta biasa, KAI harus berani menyiapkan hal tersebut. Rata-rata penumpang Luxury adalah bukan yang tidak berkelas.
Namun saya lihat, kebersihan telah dijaga dengan baik, CS sigap untuk membersihkan dan memberikan pengharum semprot jika dirasa perlu. Tetapi jika dibandingkan dengan toilet di gerbong sebelah, rasanya memang sangat berbeda karena gerbong yang biasa dibuat tahun 2016, sedangkan yang ini tahun 2019.
![]() |
| Perbedaan Toilet |
Dan Lain-lain
Headset menggunakan model noise-cancelling tetapi mereknya kurang jelas, dan dibagikan ke setiap penumpang tidak seperti di Luxury 1 yang harus minta dahulu ke pramugari dan itupun jumlahnya amat terbatas.
Meja makan seperti biasa, terletak di pinggir kursi, kali ini dengan mudah dapat ditarik dari tempatnya (meja dilipat). Besar meja makan cukup untuk menaruh makanan, tidak kekecilan dan kebesaran.
Ada hal yang menurut saya fatal, yaitu tidak ada meja untuk menaruh ponsel atau minuman layaknya kereta biasa, walaupun ada tempat minum di sisi kursi, tetapi ketika mengecas hape agak disayangkan tidak ada tempat untuk menaruh ponsel tersebut, di sisi ini KA Ekonomi jelas menang. Ini penting menurut saya, karena saya harus menaruh ponsel di sela-sela kaca karena tidak ada meja kecil dan karena jalan kereta tidak rata karena rel yang bergelombang, tidak jarang ponsel saya jatuh terus menerus. Sudah begitu colokannya jauh pula dari tempat duduk. Kalau di Luxury 1 malah mejanya lebar sekali bisa buat taruh kamera, tas, tripod, laptop bahkan harga diri pun bisa ditaruh.
Agak disayangkan, karena bentuk kursinya berbeda dengan Luxury 1 yang ada loker pribadi yang bisa dikunci di samping kursi (bahkan loker tersebut ada USB plug yang bisa digunakan untuk mengisi daya), maka di sini tidak ada loker tersebut, jadi tidak bisa menyimpan barang berharga dengan aman, harus ditaruh di tas atau disimpan baik-baik.
Jadi sebenarnya tidak ada loker pribadi tidak terlalu masalah, namun tidak ada meja kecil merupakan masalah besar karena tidak bisa menaruh ponsel, alhasil ponsel saya jadi jatuh terus.
Kesimpulan :
Jadi, 6/10 dari saya, dan saya tidak akan merekomendasikan kereta ini untuk Anda naiki apalagi malam hari, harga jelas lebih mahal dari kereta biasa tetapi, fasilitas yang didapat tidak lebih baik dari Luxury 1 bahkan kursinya tidak bisa direbahkan, tidak ada loker kunci pintu, makanan kacau, dan yang lebih parah pramugari kurang profesional karena lagi enak tidur malah dibangunkan.
Maka sama seperti artikel yang lalu, menurut saya, lebih sepadan jika Anda naik kereta Priority walau bangkunya tidak seperti ini, tetapi harga jauh lebih murah jika Anda hanya sekadar merasakan kemewahan naik kereta, dengan makanan yang lebih baik. Namun, rute selatan untuk sementara ini tidak ada kereta Priority, jadi untuk merasakan kelas paling keren maka hanya kereta jenis ini yang melayani, tetapi menurut saya mending naik eksekutif biasa, sama nyamannya, makanan juga jauh lebih enak walau beli bahkan tidak diganggu ketika tidur, serta ada meja kecil.
Tapi ada sedikit mengutip artikel lama saya tentang Luxury 1, jika dibandingkan kereta ini dengan yang sudah beroperasi :
Saran sedikit, jika mau pakai kata-kata ‘luxury’ maka ditambah lagi fasilitasnya seperti makan disuguhkan menggunakan piring dan gelas atau setidak-tidaknya ada baki/tray seperti kereta priority jadi terlihat berkelas, minuman bebas tambah (seperti Priority), toilet lebih luas dengan segala aksesorisnya yang menambah kemewahan seperti pesawat kelas bisnis, hiburan ditambah, kalau perlu ada ruang tunggu eksekutif (lounge) dan akses pintu masuk khusus mungkin itu bisa dikatakan luxury dan “setara kelas bisnis pesawat terbang”.
Ulasan : KA Argo Bromo Anggrek Luxury, Apakah Sepadan?
Untuk penyajian makanan, malah lebih parah karena sistemnya seperti tidak niat, diantar satu-satu, dibangunkan pula, jadi tidak baik. Sedangkan toilet memang lebih luas dari yang sebelumnya sehingga patut diapresiasi, interior juga lebih mewah sedikit, hiburan masih sama seperti yang lama hanya ada penambahan headset sehingga ada perkembangan. Hal yang disayangkan adalah tidak ada meja kecil dan bentuk kursinya saja yang tidak nyaman untuk tidur (sleeper coach), tetapi untuk duduk secara biasa masih terasa nyaman sekali, namun tidak cocok disebut "Sleeper" karena jika dipakai untuk tidur, kaki ngegantung jadi tidak nyaman, mending naik eksekutif kaki bisa menjejak ke footrest, selain itu jika naik eksekutif (termasuk bisnis dan ekonomi) dan bisa memilih posisi gerbong di tengah (4/5) maka mempunyai banyak keuntungan : jalan kaki dari pintu tidak jauh, kalau hujan tidak akan kehujanan karena masih ada atap, kalau mau ke gerbong restorasi juga dekat, dan kalau mau membeli makanan di gedung stasiun ketika kereta berhenti pun juga masih keburu (misal di Purwokerto, Klaten, dll) karena posisi kereta benar-benar di tengah area stasiun.
Untuk harga promo mulai dari Rp750.000 - Rp800.000 untuk ke Yogyakarta dan sebaliknya, dan Rp1 jutaan untuk ke Malang, menurut saya agak mahal untuk fasilitas yang didapat, apalagi kursinya tidak seperti Luxury 1 (sekarang ke Yogyakarta Rp900.000 dan ke Malang Rp1.250.000), mungkin kalau mulai dari harga Rp650-750 ribuan dan ke Malang Rp950 ribuan masih oke jika fasilitasnya yang didapat hanya seperti ini.
Sekian..

















Komentar
Posting Komentar