[Unexpected Journey II] - Pra Perjalanan : Mengejar Waktu, Check-In Tanpa Antre dan WiFi di Sriwijaya Air (0)


14 Agustus 2019

Pagi hari yang cerah dikala badan yang lelah karena baru pulang dari Jawa, saya berjalan kaki dari rumah menuju laboratorium untuk tes kesehatan satu keluarga, dan memang perlu karena saya akan bepergian jauh jadi mesti benar-benar sehat dan harus ada yang dibenahi jika ada yang salah. Dan ternyata memang ada yang salah yaitu kolesterol dan asam urat tinggi, kebanyakan makan enak.


Dari dokter, saya mengawal babe bertemu orang di Kwitang, lalu lanjut lagi dengan bertemu orang bank di Bakmi Golek Paus belakang Arion, dan saya jadi mikir jam berapa saya mau berangkat ke Jawa nanti.


Di sisi lain, saya sudah diwanti-wanti oleh customer service tempat saya servis laptop di "Aibok" Mal Kelapa Gading (MKG) jika laptop tersebut tidak diambil hingga tanggal 15 Agustus, maka saya akan terkena biaya Rp50.000/hari, oleh karena itu setelah saya ketemu orang di Bakmi Golek , saya pun langsung jalan ke MKG dan drama karena saya tidak membawa resi nya sehingga harus buat surat pernyataan dengan meterai dan fotokopi KTP, untung babe ada materai tapi fotokopi KTP tidak ada, akhirnya saya kirim ke email Aibok.



Sudah begitu antreannya luar biasa ramai dan hari biasa bukan hari libur, dan saya memutuskan untuk membeli tiket Sriwijaya yang berangkatnya 4 jam 20 menit, tetapi begonya saya keenakan nunggu dan begitu hendak web-check in agar tidak keteteran eh saya kelewatan 3 menit, karena batas web-check in adalah kurang dari 4 jam keberangkatan sedangkan saya 3 jam 57 menit. RRRR..

Setelah menggerutu dan menunggu, akhirnya laptop saya dibawa dan divonis rusak SSD nya sehingga sudah tidak bisa diapa-apain, Macbook saya akhirnya sudah resmi saya pensiunkan dengan masa bakti 7 tahun dengan program berat, wis wayahe. Dan waktu sudah agak mepet alhasil saya pulang dahulu ke rumah dengan was-was. Ternyata harus buka kunci kamar dahulu, dan mana saya harus kemas-kemas jadi saya buru-buru dan tak heran banyak barang yang ketinggalan dan keteteran, padahal waktu tinggal 3 jam lagi pesawat berangkat dan saya belum web-check in.


Dirasa semua sudah siap, maka saya langsung memesan transportasi online dan tidak langsung dapat, makin panik saya tetapi yang kedua untung bisa walau mengambilnya agak jauh dari titik penjemputan. Begitu masuk mobil (transportasi online), hati saya sudah dag dig dug luar biasa karena waktu itu adalah jam pulang kerja sedangkan perjalanan saya menempuh jarak 35 KM (ke Soekarno Hatta) dan harus melewati tol, tetapi syukurlah kali itu keberuntungan menyertai jadi saya tiba di bandara tepat waktu bahkan kecepetan.


Sedikit tips, pas masuk ke tempat check-in ternyata antrean cukup ramai, namun saya lihat ada satu konter "GarudaMiles" dengan karpet yang tidak ada antrean sama sekali, lalu saya tanya apakah saya sebagai member yang hanya tier Blue bisa check-in di sana, dan ternyata bisa ! Bye-bye antre, jadi saya tidak perlu mengantre di antrean umum.. Karena hanya saya saja yang mengantre. Ternyata ada hikmahnya juga tidak bisa web-check in tadi. (NAMUN PER NOVEMBER 2019 SUDAH TIDAK BISA)




Menurut mbaknya, pesawat kali ini agak lowong, tidak sampai 70 persen padahal harganya relatif murah jika dibandingkan dengan pemain besar yang mematok harga hingga 850.000-900.000 (edan tiket pesawat sekarang).


Karena waktu masih lama, dan kebetulan saya membawa laptop, jadi saya iseng mengedit video sebentar di co-working space, yang merupakan meja dengan colokan listrik, lumayan untuk membuang waktu hingga waktu keberangkatan pun tiba.

Singkat cerita, saya pun terbang dan mendapatkan bangku di "Golden Seat" dengan ruang kaki yang amat lega, maklum karena di lorong jendela darurat, serta di bagian tengah juga kosong sehingga serasa naik kelas bisnis. Dan kali itu saya naik pesawat yang sudah terlihat berumur, walau begitu sepertinya terasa nyaman saja.




Ternyata walau pesawatnya kuno dan tidak ada televisi, Sriwijaya menyediakan WiFi on-board untuk sarana hiburan (bukan untuk berselancar internet) seperti SilkAir, sebenernya keren sih jadi bisa mendengarkan musik, menonton film, membaca berita dan majalah di udara, bahkan chat dengan orang lain di pesawat, menurut saya ini keren hanya sayang tidak semua orang mengetahui.

Kalau tidak salah sistem ini disediakan oleh AirFi, namun sebelum mengakses hiburan kita harus menulis kuesioner yang disediakan di awal seperti nomor kursi, warga negara, usia, kelamin, tujuan perjalanan, email mungkin untuk sarana promosi dan survei saja.



Walaupun saya lihat musiknya juga tidak terlalu update dan kebanyakan lagu menye-menye, begitupun dengan filmnya juga lebih banyak film lawas dan program televisi yang "begitu", kecuali bahan berita dan bacaannya lumayan bagus isinya, tetapi tidak apa menurut saya bagus daripada tidak ada sama sekali atau TV yang mati seperti di pesawat lain.


Saya tidak mencoba permainan dan fitur belanja karena durasi penerbangan yang singkat.


Pilihan Hiburan 

Enaknya naik maskapai Sriwijaya adalah mendapatkan makanan walau itu hanya cemilan di penerbangan yang singkat, dan yang konyol ketika Garuda sekarang pengemasannya hanya menggunakan paper bag seperti Sriwijaya (dulunya pakai kotak), sekarang Sriwijaya malah pakai kotak padahal dulunya menggunakan paper bag, padahal jelas lebih bagus Garuda. Kok dunia jadi terbalik begini.


Makanan di Sriwijaya
Isinya adalah roti isi selai dan air putih Cleo yang rasanya agak aneh, tetapi lumayan daripada tidak dapat sama sekali. Harapan saya semoga Sriwijaya ini tetap ada di Indonesia, karena harga yang relatif terjangkau dengan fasilitas oke, rasanya pilihan yang tepat.


Singkat cerita, saya tiba lagi di Bandara Adisutjipto Yogyakarta padahal kemarin baru saja terbang dari sini, dan begitu keluar pesawat saya langsung berjalan ke terowongan yang tembus di area jemput dan stasiun untuk mencari kendaraan, pertama saya iseng untuk mencoba Prameks tetapi habis (ini konyol, kereta api kok bisa habis padahal bukan KAJJ (Kereta Api Jarak Jauh). KRL/Commuter Line Jabodetabek saja jika masih muat bakal dijejel, dan per September 2019 sudah tidak bisa membeli tiket kereta api lokal di stasiun lagi. Benar-benar menyusahkan.

Walaupun per November 2019 saya bisa beli tiket langsung di stasiun walaupun waktunya hanya dua jam sebelum keberangkatan, tetapi risikonya adalah tetap bisa tidak dapat tiket karena kereta yang telah penuh.


Akhirnya, saya pun langsung keluar dari area stasiun bandara untuk memesan transportasi daring dari depan kantor Imigrasi di pinggir jalan, dan konyolnya malah dapat mobil yang lagi di dalam padahal samping saya banyak mobil yang sedang ngetem, ah sudahlah batinku, untung orangnya enak sehingga bisa sampai Klaten dengan selamat. Dan ketemu lagi dengan tanteku di sana, bahkan Om ku sampe terheran-heran kok saya bisa balik lagi padahal baru saja pulang.


Kemana rencana ku sebenarnya ?

Gunung Andong!

Komentar