____
Keesokan Harinya...
17 Agustus 2019
Pagi harinya, kami pun terbangun dengan mata sepet karena tenda sebelah berisik, kami pun keluar dan menyapa tenda Rombongan Boyolali yang terlihat matanya benar-benar merah karena tidak bisa tidur karena problema yang sama yaitu dangdutan dan berisik. Saya pun menikmati hawa dingin nan indah, dari fajar dan hamparan awan yang terbentang menyelimuti gunung lain di sekitar Andong.
Beruntungnya cuaca kali itu sangat baik sehingga kami bisa melihat “negeri di atas awan” . Kami pun diajak Mas Inyong untuk menanjak ke daerah puncak, dan ternyata di sana sangat ramai sekali tenda seperti pasar malam, saya tidak bisa membayangkan apakah mereka bisa tidur karena di camp yang kami tiduri saja berisik padahal tendanya kurang dari 10, apakabar mereka yang tendanya dempet-dempet, sudah begitu pesingnya luar biasa. Hadeh..
Kami tidak ke puncak pada waktu itu, Mas Inyong berbelok arah dan melipir sedikit untuk menuruni gunung dari jalur yang tidak resmi, dengan lereng yang curam demi mendapatkan pemandangan fajar yang indah, dan benar saja ternyata pemandangannya adalah langsung menghadap ke Gunung Merapi dan Merbabu dan saya tidak bohong, itu memang keren banget, kami pun berfoto-foto sambil membuat klip video ulang tahun MR.DOOSSS yang memang konsep awalnya di sini. Jadi video yang awalnya dibuat di Imogiri dan pantai Gunung Kidul (Budhonk dan Budiyah bikin berdua) sebagai "pengganti suasana Gunung Andong" diubah pelengkap dan diganti video kita berdua di sini.
![]() |
| Dirgahayu Indonesia |
Karena puncak gunung Andong sangat ramai, akhirnya kami pun kembali ke kamp, di perjalanan turun ke kamp kami bertemu dengan anak-anak Rombongan Boyolali dan mengajak mereka untuk berfoto-foto sedikit, dan jalan ke bawah makam untuk foto mengibarkan bendera, anak-anak pun sepertinya langsung tersihir dengan aura keibuan daripada Budhonk, memang aura guru tidak bisa dibohongi.
Setelah anak-anak tersebut berpisah karena mereka hendak jalan-jalan ke puncak (mau mencari tulisan Andong), perjalanan kami pun lanjut ke belakang makam untuk membuat video tambahan, dan Mas Inyong tahu spot yang jarang orang lewat dan ternyata memang pemandangannya tidak kalah indah. Langsung menghadap ke gunung yang mungkin Sumbing.
![]() |
| Rombongan Boyolali dan Duo MR.DOOSSS |
Kami pun membuat video dan foto-foto di sana, selesai urusan tersebut kami kembali ke tenda untuk bersiap-siap, tetapi saya minta izin ke mereka untuk muncak sendiri karena belum pernah juga, akhirnya saya pun lari ke puncak agar cepat melewati tenda-tenda yang sangat ramai dengan orang-orang.
Saya pun berhasil mencapai puncak gunung, rasa puas pun ada walaupun sebenarnya saya lebih menikmati proses pendakiannya daripada puncaknya, namun ini sebagai formalitas bahwa tujuan saya naik gunung sudah tercapai untuk pertama kalinya (Gunung Bromo tidak dihitung), dan hanya sendirian ditemani dengan tripod kesayangan, begitu saya foto-foto selfie (tidak minta difotokan agar cepat), saya pun langsung cabut ke bawah karena saya tahu kita mengejar waktu.
Belum
sampai bawah, ternyata saya bertemu dengan anak-anak SMP alias tetangga dari
Boyolali tersebut, dan saya tanya ternyata mereka tidak ke puncak padahal
mereka mengincar kata “Puncak Gunung Andong”, mungkin karena ketidaktahuan
mereka.
Sebenarnya saya sudah benar-benar mau turun ke bawah / ke tenda, tetapi karena anak-anak tersebut saya dengar tidak sampai puncak, nurani saya pun terketuk masa saya sendiri ke Puncak tetapi mereka tidak padahal naik, makan dan turun pun bareng ibaratnya, saya tidak boleh mementingkan ego juga, maka saya pun balik ke atas untuk balik lagi demi mengantar mereka ke Puncak untuk menikmati puncak gunung Anding sambil berfoto-foto untuk kenang-kenangan, dan benar saja raut muka mereka terlihat sangat puas sekali ketika tiba di Puncak, walaupun saya tahu konsekuensinya adalah waktu menjadi molor hingga 10-15 menit, tetapi tidak apa lah, walau ketika kita semua sampai di tenda gw kena omelan sedikit, tetapi yang penting anak-anak tersebut mendapatkan momen dan tujuan dari apa yang dituju toh juga waktunya masih masuk. Karena keponakan saya juga seumuran mereka jadi ada rasa kepedulian sedikit selama hal tersebut masih masuk akal.
![]() |
| Rasanya Seperti Mimpi |
Turun gunung, ini merupakan proses yang super mendebarkan ! Saya hanya mengunakan sepatu olahraga untuk medan yang datar, dikala jalannya menurun tangga berbatuan dan curam sekali serta berpasir, benar-benar menantang karena kalau tidak hati-hati pasti bisa tergelincir.
Dan benar saja, ada salah satu anggota Rombongan Boyolali langkahnya tidak masuk di tangga sehingga tergelincir kakinya keseleo dan itu menyakitkan, serta posisinya masih setengah jalan menuju basecamp pun belum. Dengan tertatih-tatih, akhirnya dia bisa menyelesaikan medan yang benar-benar menantang tersebut (bahkan saya dan si bapak Boyolali tersebut sampai kepleset berkali-kali karena sepatu kita mirip yaitu sol datar).
Beberapa langkah pun berlalu, ketika kami tiba di pos dua, kami semua beristirahat sementara waktu karena mereka kebetulan menemukan toilet, bahkan Mas Inyong sudah sampai dan sarapan hingga tiga piring nasi, kan dahsyat.
![]() |
| Proses Turun Gunung |
Saya pun dicolek orang setempat yang ada di pos dan beliau bertanya apakah ada rombongan yang kesleo, saya pun menjawab iya dan saya langsung diberikan tongkat kayu dan disuruh memberikan kepada anak yang keseleo tersebut, ya dengan polosnya ya langsung saja saya kasih ke anak tersebut eh ndelalah kata Budhonk kependekan, ya mana ku tahu Bambang yang ngasih kan orangnya bukan guaaa yang mencari… Walaupun akhirnya si anak tersebut mendapatkan tongkat yang pas karena agak tinggi setelah dicarikan Budhonk.
Akhirnya,
dengan langkah yang tertatih-tatih dan hati-hati, kami pun berhasil melewati
rintangan demi rintangan dan ketika melihat tangga biasa hati sudah benar-benar
lega sekali seperti nahan buang air seminggu, bahkan pas sampai gapura rasanya
hati benar-benar senang karena capek itu terbayarkan sudah. Tidak menyangka
saya bisa melewati itu semua.
Pulang dari sana, kami pun menyempatkan diri untuk mampir makan pagi sekaligus siang di sebuah warung soto yang sangat milenial sekali, karena kita dianjurkan untuk memberikan ulasan atau review tentang tempat makan tersebut di internet, dan sepertinya aktif sekali di social media, bahkan kalau berfoto di booth selfie yang telah disediakan kemudian difoto dan dikirimkan ke Instagram mereka, kita bisa memenangkan hadiah seperti liontin emas, dispenser.
![]() |
| Sarapan Soto (atas) dan Pawai Kemerdekaan (bawah) |
Menurut saya, soto ini enak dan benar-benar enak sekali untuk dimakan serta yang paling unik adalah makannya dengan batok kelapa sehingga makan di sini mempunyai ciri keunikannya. (Berikutnya saya makan soto pakai batok begini malah di hotel).
Ketika selesai makan, kami pun berpisah dengan Mas Inyong, saya dengan Budhonk cus ke Yogyakarta dan ditengah jalan ternyata ada pawai 17-an yang membuat jalan agak macet, unik sebenarnya tapi mata dan badan sudah terlalu lelah untuk melihat begituan ditambah ada deadline untuk membuat video yang telah dibuat di gunung juga.
Kami berdua pun diam-diaman di motor karena ngantuk dan lelah, setiap saya ngobrol juga Budhonk jawabannya datar (kadang Budhonk ini kalau diajak ngomong kurang fokus kalau lagi banyak pikiran atau mengantuk), jadi daripada timbul hal yang aneh-aneh akhirnya kami berhenti terlebih dahulu di minimarket sambil ngopi hingga mata Budhonk melek kembali karena beliau yang memegang kendali, ketika badan sudah mulai fit kembali, kami pun lanjut dan perjalanan kali itu terasa menyakitkan karena sakit boyok saya kambuh dan posisi sedang membawa carrier yang segede bagong, kambuh di saat yang tidak tepat.
Sebelum memasuki wilayah Yogyakarta, saya pun minta berhenti sebentar untuk merekam video untuk keperluan ulang tahun MR.DOOSSS yang masih kurang, dan perjalanan terasa semakin menyakitkan karena jarak dari Grabag ke Condongcatur yang tidaklah dekat (apakabar kalau rumahnya di Bantul ya).
Lama-lama, punggung tidak kuat juga, akhirnya carrier di bawa di depan, dan masih melanjutkan perjalanan hingga 5 km dan syukurlah tiba di rumah Budhonk dengan selamat sentosa, tiba di sana langsung berkemas-kemas dan mandi serta pamit dengan madame nya Budhonk, saya tidak bertemu dengan ayahanda karena beliau sedang menunaikan ibadah Haji.
Karena kami harus menyunting video (bukan menyunting cewe), kami pun mencari tempat nongkrong yang enak buat nongkrong serta harus ada colokan dan WiFi dan pilihan jatuh kepada Oak Café yang ada di dekat Seturan. Kami pun membuat video tersebut dengan ngebut dan ternyata hasilnya pun tidak memuaskan sama sekali, karena mood yang sedang lelah dan rendering video yang sangat lama, dan itupun suaranya tidak sinkron pulak ! Benar-benar tidak bisa sesuai deadline bahwa harus jadi tanggal tersebut.
Malamnya, karena ada janji dengan Riay maka saya langsung diantar oleh Budhonk ke J-Walk Sahid, salah satu mal baru namun agak disayangkan dalamnya kosong melompong entah mengapa, padahal bioskopnya ramai. Tetapi memang agak kurang menjanjikan sih dari bentuknya, pantes unit kondotel nya pak bos di sini tidak jadi-jadi dari zaman SMA.
Sayang Budhonk tidak ikut karena ada keperluan lain, dan sayapun bertemu dengan Riay dan hendak menonton Bumi Manusia, film yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan dan Mawar de Jongh tentang film zaman kolonial yang dibuat dari kisah novel nya Pramoedya Ananta Toer, saya pun agak tercengang juga karena filmnya lumayan lama karena hampir tiga jam dan sama lamanya dengan Avengers. Top.
Ada yang menarik di studio CGV J-Walk, ternyata bentuk studionya adalah melingkar (circular) mengikuti arah layar seperti menonton di bioskop IMAX, mungkin CGV terbaru sekarang konsepnya seperti itu, dan menurut saya jadinya enak karena leher dan mata saya tidak tengeng. Mungkin salah satu desainernya temen kuliah ku di Binus yang memang interior desainer nya sebagian besar CGV di Indonesia.
Ketika pemutaran film berlangsung, di intro film terdapat lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dan sebagai nasionalis yang baik tentu kita semua berdiri. Selesai Indonesia Raya, kami pun duduk kembali dan film pun dimulai, selama tiga jam, yang nonton sampai terkantuk-kantuk dan efeknya saya benar-benar ketiduran menjelang ending ! Bangun-bangun sudah credit title atau tulisan di akhir film, dan begitu saya lihat sebelah saya, Riay sudah memasang muka suntuk karena melihat saya ketiduran dan faktor sudah malam juga karena disuruh pulang dengan orang rumahnya.
Alhasil, kami pun berpisah di lift karena saya ke lobi dan beliau ke rubanah atau basement, saya pun ngemper di pinggir drop-off hotel Sahid karena mau mencari penginapan, dan celakanya saat itu adalah weekend sehingga harga agak tinggi bahkan sudah pada habis, rencananya mau tidur di dekat daerah Ambarrukmo tetapi habis semua, untung dewi fortuna masih memihak dan saya dapat penginapan malah di daerah Condongcatur yang lebih mencenangkan lagi dekat sekali dengan tempatnya Budhonk, hanya 2 KM (biasanya saya menginap di sana jaraknya 4-5 KM dari rumahnya).
Tanpa basa basi, saya langsung pesan melalui aplikasi OYO dan celakanya pembayaran saya statusnya berhasil tapi bookingannya gagal ! Alamak ! Tetapi saya tidak panik dan mencoba untuk stay cool dan syukurlah aplikasi OYO ini agak pintar sehingga bookingan saya yang tadinya gagal akhirnya bisa berhasil.
![]() |
| Sahid Lifestyle Mall dan Nonton Film (atas) dan Penginapan (bawah) |
Saya pun datang ke OYO yang modelnya adalah kosan hotel (kostel) walaupun lebih mirip rumah tinggal biasa, ternyata malam hari pun masih ramai tamu berdatangan padahal sudah mau pukul 12 , proses check-in pun agak susah karena faktor pembayaran tadi, tetapi semua bisa diatasi dengan baik, tempatnya lumayan bagus, bersih dan modern namun satu yang saya benci, yaitu kamar mandinya hanya disekat aluminium dan masih ada celah sehingga ada orang yang beraktivitas di sebelah termasuk mengobrol kedengaran jelas di kamar, bahkan orang sebelah sedang “hajatan” di toilet pun kedengaran sampai kamar padahal pintu kamar mandi sudah saya tutup dan televisi sudah lumayan kencang suaranya. Sangat menyebalkan.
Intinya, 17-an ini sangat berkesan. Terima kasih Budhonk (dan Mas Inyong) dll. Magnificent!
Kalau kamu sadari, menceritakan prosesnya jauh lebih panjang daripada ngomongin puncak (tujuan) yang hanya dua paragraf. Untuk pemula seperti saya, tentu saya tidak ngoyo.
_________
Sebenarnya masih ada kisah lain namun ceritanya biasa saja. Hanya saja di akhir kisah perjalananku, saya sudah disuruh pulang karena ada kerjaan dan saya tidak boleh naik kereta api, tetapi harus pesawat dan diputuskanlah menggunakan maskapai si hijau Mbak Siti yang paling malam dari Yogyakarta (jam 7an) karena saya malas balik, tetapi saya beralasan pada orang rumah bahwa pesawatnya terlambat alias delay jadi maklum kalau saya pulangnya malam.
Namun kenyataannya, pesawat saya delay beneran selama satu jam dan saya sampai rumah akhirnya jadi tengah malam ! Wakakak koplak.
_________
Sekian perjalanan di tengah tahun 2019 ini. SELESAI







Komentar
Posting Komentar