Prolog Sebelum Ke Andong
Keesokan harinya, saya berencana bertemu dengan kawan di Yogyakarta dengan menggunakan kereta api lokal yang mana memesan kereta tersebut hanya bisa dibayar dengan menggunakan LinkAja, namun dikarenakan LinkAja saya terblokir karena lupa kata sandi (dan harus ke Grapari untuk mengurus beginian yang mana harus ke kota), maka saya memutuskan untuk menggunakan ojol atau ojek online karena ada promosi juga, rencananya mau dua kali ganti ojek online antara Klaten - Kalasan - Plaza Ambarrukmo, tetapi pas saya naik dari Klaten menuju Kalasan pengemudinya mengusulkan ide cemerlang dan lebih murah, jadi saya naik ojol dari Klaten menuju Prambanan dan lanjut dengan TransJogja menuju Plaza Ambarrukmo dan itu lebih dekat dibanding naik motor ke Kalasan (dan Amplaz), lebih murah dan cepat serta nyaman, dari sana saya dijemput oleh teman saya dan nongkrong sampai sore.
Sorenya, ketika teman saya balik ke rumahnya, saya hilang arah dan bingung mau balik apa tidak, akhirnya saya entah bagaimana janjian sama Riay dan masih bingung mau kemana dan masih menunggu kabar dari dia, akhirnya saya lari ke mal di Condongcatur untuk mengurus LinkAja dan potong rambut sembari menunggu kabar dari Riay, ngomong-ngomong tukang cukur rambutnya lumayan jago juga motongnya walau harganya sama dengan Jakarta.
Malamnya, saya memutuskan untuk menyamperi ke daerah tempat Riay tinggal dan saya janjian di depan Tjokro Style Hotel di selatan kota, dan lanjut nongkrong di tempat minum susu sambil mengobrol singkat kamipun mencari tempat penginapan dekat sana karena pulang ke Klaten pun kemalaman.
Akhirnya, saya menginap di daerah Wirosaban yang merupakan daerah di selatan Yogyakarta, dan penginapannya terlihat dari rumah kuno zaman Belanda, dan lumayan horor, serta tidak terlalu bersih, oh nasib mak. Kamar mandinya juga gelap tetapi besar sekali dan auranya juga gelap, tetapi tidak apa lah dinikmati saja
Keesokan harinya, saya sudah terbangun subuh-subuh karena tidak tenang.
Kenapa? Saya baru ingat kalau harus mengambil barang-barang dan keperluan saya di Klaten dan saya tidak membawa barang lengkap waktu itu karena tidak ada rencana menginap. Akhirnya saya menempuh jarak hampir 60 KM dengan dua kali perjalanan Gojek dan membutuhkan waktu dua jam, dengan rute Wirosaban - Prambanan - Klaten.
Begitu tiba di rumah Klaten, saya pun sarapan sebentar dan kemas-kemas barang bawaan yang harus dibawa, tidak sampai 15 menit, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Wirosaban dengan jarak yang sama (hampir 60 KM juga), itupun dengan drama yang membuat perjalanan menjadi molor padahal Budhonk sudah mewanti-wanti bahwa lebih baik berangkat agak pagi agar tidak ramai ketika mendaki.
Sampai penginapan, saya pun langsung berkemas cepat, check-out, dan harus nyamper ke rumah Budhonk di daerah Condongcatur yang berada di utara Yogyakarta untuk menitipkan barang dan mengganti logistik, jadi kebayang gak lo kalo gw kek lagu Wali "timur ke barat, selatan ke utara". Saya kesana naik ojek online dan menempuh jarak 15 KM, itupun mampir di Indomaret untuk membeli bahan-bahan tambahan seperti gas, obat masuk angin, air putih.
Tiba di rumah Budhonk, pas kebetulan bada Jum'at, dan ternyata menurut saya memang wayahe kudu ngono. Saya pun berkemas-kemas untuk memindahkan barang bawaan ke daypack yang telah disediakan Budhonk, dan beliau yang menata barang bawaan yang akan saya bawa karena saya tahu beliau profesional dibidang menata barang bawaan, hanya menata hati saja yang beliau masih abu-abu. Ketika sedang menata datanglah adiknya Budhonk yang merupakan produk asli Yogyakarta (dia dan kakaknya produk Laskar Pelangi), sekalian kenalan. Dan Budhonk dan adiknya itu kalau ngomong sudah benar-benar seperti keluarga Jawa yang sebenarnya, berbeda dengan saya di rumah walaupun orang Jawa tulen tetapi bahasanya campur aduk tidak karuan.
Karena hari sudah menunjukkan pukul 12 teng, saya pun ikutan Jum'atan dan nebeng adiknya Budhonk ke masjid terdekat, ternyata masjidnya adalah masjid kuno Masjid Jami' Pathok Negoro Plosokuning, yang berdiri sebelum Keraton Ngayogyakarto didirikan. Benar-benar kesempatan yang baik, mungkin ada hikmahnya dari ini semua. Dan lucunya, saya agak roaming dengan isi ceramahnya karena menggunakan bahasa Jawa Krama. Wah gw orang Jakarta kagak ngarti dah bapaknya ngomong apaan.
Selain ceramahnya cepat, sholatnya pun juga cepat, tidak lama seperti masjid lain sehingga membuat saya agak kagum juga dan merupakan salah satu kesempatan dan momen yang mungkin tidak bisa dilupakan juga. Selesai Jum'atan kami pun balik ke rumah Budhonk dan langsung cus ke Magelang.
Singkat cerita, kami pun tiba di alun-alun Magelang untuk makan siang terlebih dahulu, kami makan ayam goreng yang enak sekali, yang jual ibu-ibu tetapi lagi-lagi biar Budhonk yang jadi interpreter karena saya roaming kalau ngomong di daerah Jawa. Setelah perut kenyang, kami pun lanjut dan jaraknya lumayan juga.
![]() |
| Jarak Tempuh Saya Dari Klaten - Andong |
![]() |
| Proses Perjalanan Menuju Base Camp Andong |
Perjalanan Pun Dimulai...
Tiba di tanjakan menuju basecamp Gunung Andong, jalannya sangat curam dan motor Budhonk tidak kuat dan tercium bau rem gosong, sehingga saya harus turun dan jalan kaki menanjak dan menurun terjal karena saya tidak bisa mengendarai motor, untung keajaiban datang setelah ada bapak-bapak dengan putra nya yang naik motor sepuh mau mengantarkan saya ke basecamp dan Budhonk mengikuti di belakang, kalau tidak saya bisa jalan kaki dah, belum naik gunung saja sudah diplonco hahaha.
Pertama kali masuk basecamp, ternyata banyak bapak-bapak berpenampilan abstrak yang memang pecinta alam sejati dan mungkin TIM SAR juga. Suer saya seperti tidak tahu harus melakukan apa atau adatnya bagaimana yang lagi ngobrol, dan begitu melihat saya yang terlihat kikuk saya langsung diberondong pertanyaan ini-itu dan saya semakin roaming dan bingung harus melakukan apa, untung saya tidak diplonco lagi di sana, ya nasib orang pertama kali mah begitu. Kami kira beli tiket di sini, ternyata tidak, akhirnya Budhonk berjalan keluar membeli tiket dan saya menunggu di basecamp, terasa menjemukan.
Kesan pertama adalah hati sangat berdebar keras karena baru pertama naik gunung dengan membawa beban (walau tidak berat) dan benar saja baru pertama kali memasuki area pendakian, ternyata kami sudah disambut dengan tangga yang lumayan menjulang, jantung sudah berdebar lumayan kencang dan agak deg-degan apakah masih kuat padahal dari awal. dalam medan yang lumayan terjal.
Setelah urusan tiket selesai, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kira-kira 300 meter dari basecamp ke gapura penanjakan Gunung Andong, setelah memasuki gapura ada pos pemeriksaan yang tentunya dilanjutkan dengan menunjukkan tiket yang sudah dibeli (entah Budhonk belinya di mana saya karena tadi saya menunggu di basecamp) tetapi untungnya tidak ada pemeriksaan barang, kami pun mengucap bismillah dan siap untuk mendaki.
![]() |
| Awal Perjalanan, dan Secuplik Pendakian |
Namun, lama-lama sayapun sudah mulai terbiasa dengan medannya, maka pelan-pelan tapi pasti perjalanan itu terasa lebih mengasyikkan dan tidak terasa setiap pos demi pos terlampui, sebenarnya medannya lumayan sulit karena modelnya seperti tangga yang terjal dan batu yang berpasir, bisa dibilang kaki agak kemeng tetapi dengan dukungan dari Budhonk akhirnya proses perjalanan dapat dilalui dengan baik tanpa kurang suatu hal apapun juga.
Saya mempelajari karakteristik para pendaki yang ada di Andong, ternyata mempunyai sifat yang ramah dan sopan, walau penampilannya terkadang urakan dan terlihat seperti para penikmat senja dan kopi, tapi sebagian besar juga ada yang biasa saja, bahkan ada yang terlihat turis karena perawakannya necis sekali sudah seperti mau jalan-jalan di kota besar. Setiap ada orang lewat saya pun berusaha menyapa, dan kalau ada yang lagi berhenti saya bilang permisi sebagaimana kebiasaan saya di tempat biasa, namun 95 persen responnya rata-rata baik.
Di Gunung Andong ada tiga pos, dengan rincian pos satu dan dua masih ada toilet (bahkan di pos dua ada warung), mulai ketiga dan seterusnya sudah tidak ada toilet. Sebelum pos terakhir ada sumber air yang mungkin bisa berguna untuk kebutuhan di tenda.
Menjelang pos terakhir, kami berdua bertemu dengan rombongan anak-anak SMP (4 wanita dan 1 lelaki) dengan pendampingnya yaitu satu orang bapak-bapak kita sebut saja Rombongan Boyolali karena mereka berasal dari Boyolali. Ketika kami membuka obrolan singkat, rasanya rombongan tersebut sudah cocok dengan kami, bahkan bapak tersebut bercerita bahwa konon katanya beliau sudah sering naik gunung ini itu, tetapi maaf menurut Budhonk agak ngelantur dan mengarang bebas, katanya gunung Merbabu itu tingginya mencapai 3.700 meter ketika Rinjani yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia saja tingginya baru segitu.
![]() |
| Proses Pendakian |
Bahkan ketika saya pulang dan ke rumah pun saya mengobrol dengan bapak ku, beliau pun geleng-geleng kepala setelah mendengarkan kisahku di Andong dan berkata, “hah nak Merbabu duwur e sakmono, trus Semeru arep e duwur e sak piro? Ngapusi kuwi ! ”
Benar, karena Merapi saja tingginya sekarang hanya berkisar 2.900 meteran karena erupsi, kalau Andong dibandingkan Merbabu memang iya hanya separuhnya, tetapi kalau Merbabu dibilang 3.700 meteran tentu saya rasa mustahil karena tingginya mendekati Gunung Rinjani bahkan Kerinci.
Tetapi,
ilmu padi merunduk ditetapkan di sini. Memang harusnya begitu.
Setelah mengobrol dengan mereka, awalnya rombongan tersebut duluan menyalip kami, tetapi ketika di pos terakhir menuju tempat kemah dan puncak, mereka sedang beristirahat di pos tersebut sambil foto-foto dan kami permisi untuk menyalip lagi, setelah beberapa perjalanan singkat kami pun beristirahat dan rombongan tersebut menyalip lagi, dan setelah kami melepas lelah kami pun mencoba berjalan dan bertemu lagi dengan mereka, lama-lama akhirnya kami berjalan barengan sambil mengobrol hingga menuju tempat kemah.
Akhirnya, ketika waktunya matahari terbenam, kami pas tiba di tempat perkemahan, kami sengaja tidak nge-camp di daerah puncak gunung karena Budhonk tahu pasti ramai sekali apalagi keesokan harinya adalah hari kemerdekaan, kami mendirikan tenda di daerah perkemahan yang tidak terlalu jauh menuju puncak, dan dekat dengan puncak makam seorang tokoh penting Kyai Abdul Faqih atau Ki Joko Pekik. Dulu konon katanya gunung ini mistis menurut kabar dari penduduk setempat atau internet.
![]() | |
|
Singkat cerita, setelah membantu mereka, kami pun membuat tenda kami sendiri yang belum jadi, dan ketika jadi, hal yang saya lakukan adalah mengeluarkan logistik yang ada di tas saya yang kebetulan adalah beberapa alat masak dan bahan makanan yang digunakan untuk makan di tenda, saya pun menata sesuai kebutuhan karena dasar desain interior tidak bisa hilang, yaitu saya menyusun logistik tersebut menjadi beberapa kategori di antaranya bumbu-bumbu, sayur, beras, alat-alat memasak dan makan, serta alat pendukung agar Budhonk lebih mudah mencari apa yang dia butuhkan.
Saya
pun rebahan sebentar di tenda sambil menghangatkan badan sembari Budhonk
membantu tenda sebelah yang katanya tidak bisa menghidupkan kompor kecil (makin
meragukan kalau bapak tersebut suka naik gunung), dan yang lebih miris adalah
makan Sarimie satu atau dua bungkus dibagi lima orang ! Wah wah wah……
Akhirnya, begitu Budhonk selesai, saya gantian keluar karena hendak basa-basi dengan tetangga sebelah (Rombongan Boyolali) dan karena Budhonk ingin masak dan tidak mau diganggu (aneh juga). Pada awalnya saya kebal karena saya mengobrol di luar tenda dengan bapaknya ngalor-ngidul padahal anginnya kencang, tetapi sudah hampir 30 menit berlalu ternyata Budhonk belum selesai masaknya dan badan sudah greges parah, akhirnya saya minta izin untuk masuk ke dalam tenda bapak tersebut sambil melanjutkan obrolan kita yang benar-benar asyik walaupun tingkat keakuratannya diragukan.
Lama kemudian, Budhonk pun membawa nesting tepatnya alat memasak dan beberapa alat makan serta masakannya untuk dimakan, lauk pauk yang dibawa adalah capcay asli bukan instan, serta nasi putih dalam ukuran yang luas untuk dimakan bersama (semua tidak ada yang instan), saya lihat mereka makan dengan malu-malu tetapi nikmat, dan saya juga aslinya pada waktu itu lapar banget tetapi demi menjaga gengsi. Kami pun masih mengobrol banyak hal hingga waktu makan malam selesai.
Yang lucu, ketika kami kembali ke tenda, ternyata ada tamu tak diundang yaitu kucing abu-abu yang memakan garangannya Budhonk, padahal itu adalah lauk pauk kesukaannya Budhonk, memang kucing tersebut pintar karena tahu jenis makanan yang enak. Rupanya usut punya usut kucing tersebut sepertinya 'kuncen' nya Gunung Andong.
![]() |
| Rombongan Boyolali |
Tidak lama kemudian, kami pun keluar tenda untuk mencari sumber mata air, walaupun endingnya tidak menemukan sumber mata air di dekat daerah perkemahan, tetapi kami malah buang air kecil di semak-semak dan bergantian karena memang kebelet dan itu lumrah (hanya tentunya kami tidak berpandangan ya, gak), selesai hajatan kecil maka kami pun berjalan ke atas dan mengobrol di luar tenda sambil menunggu Mas Inyong.
Secara singkat, Mas Inyong bisa dibilang 'kuncen' dari Gunung Andong, teman Budhonk, dan rumahnya juga di daerah sini dan sering sekali naik kemari ibaratnya sudah seperti makanan sehari-hari, beliau juga pecinta alam sama seperti Budhonk, beliau memang sudah lama banget tidak bertemu dengan Budhonk dan sekalian membantu proses pembuatan video MR.DOOSS.
Kembali lagi, kami di luar sambil melihat orang-orang yang masih berdatangan dari bawah dan berjalan ngos-ngosan menuju puncak gunung, dan mereka sepertinya memilih mendirikan tenda di daerah puncak. Lucunya, Budhonk gayanya sudah seperti menawarkan villa di Puncak (Puncak Kabupaten Bogor) dengan kuping ditutup, sambil nyenter tenda dan berkata "mari-mari tendanya"....
Tidak terasa, sudah satu jam mengobrol di luar tenda hingga pukul sebelas malam, kami pun masuk ke tenda untuk menghangatkan diri, tetapi sebelumnya Budhonk ingin berganti pakaian terlebih dahulu dan saya menjaga di depan, tetapi lucunya hidup, begitu tidak ditunggu ternyata Mas Inyong datang juga dan datang-datang langsung merangsek masuk ke tenda, untung saya di depan dan Budhonk juga langsung mengeluarkan “alarm”, jadinya aman, mereka sepertinya sudah lama tidak bertemu makanya terlihat kangen sekali.
Singkat cerita, kami pun masuk ke tenda bertiga, dan memutuskan untuk tidur karena hari sudah larut malam, yang aneh adalah hawa waktu itu sebenarnya tidak terlalu dingin di dalam tenda, namun ketika beberapa lama tidur, saya terbangun dan kaki saya terasa dingin sekali padahal tidak ada angin yang masuk dari luar di bagian kaki, dan badan langsung menggigil parah sehingga saya meminta tolong pada Budhonk untuk mengambilkan jaket dan sarung tangan serta kaus kaki, yang ketika dipakai baru terasa hangat.
Padahal sewaktu di Hongkong dan Jepang yang suhu udaranya 7 derajat (di Jepang 2 derajat) dengan jendela tidak bisa ditutup dan tanpa pemanas, saya rasanya kebal walaupun pagi-pagi kamar sudah sedingin freezer dan badan saya merinding disko seperti ayam broiler yang dibekukan selama tiga hari berturut-turut, tetapi ini yang menurut saya hawanya tidak seberapa dingin dibanding tempat yang telah disebutkan kok bisa menggigil parah, suatu hal yang aneh, but you know.
Tidur pun terasa tidak nyaman ketika tenda sebelah teriak-teriak dan yang lebih parahnya adalah dangdutan, ingin murka rasanya tapi badan lelah dan tidak berdaya, lebih baik beristirahat daripada mengurus begituan, dan lucunya malam itu ketika saya terbangun, Budhonk pun juga terbangun dan kita saling berpandangan. Dan lebih konyol lagi, kebiasaan saya mengunyah ketika tertidur kambuh dan menurut Budhonk itu lucu karena dikira saya lagi ngemil tengah malam, dan anehnya saya hanya begitu kalau saya lagi jalan-jalan tidak bersama keluarga inti.
____









Komentar
Posting Komentar