22 Juli 2019
Sebenarnya, hari itu rencananya kami mau ke Gunung Kidul untuk ngecamp di pantai, namun saya dapat kabar bahwa arus pantai selatan sedang kencang-kencangnya bahkan ada kabar potensi ombak besar, dan ditambah kabar burung Megatrust gempa besar dan tsunami, makin tidak keruan dan memutuskan untuk membelokkan arah wisata ke Bukit Klangon yang letaknya di ujung utara DIY.
Sebelum ke bukit Klangon, saya diajak sarapan di lesehan namun hanya saya saja yang makan karena Budhonk sudah sarapan, selesai makan baru lanjut dan bertemu Riay di pinggir jalan Solo, dan ternyata beliau belum makan sehingga kami mencari Warmindo walau agak mustahil di pinggir jalan.
Tidak disangka (unexpected), ada Warmindo di Jalan Jogja-Solo yang sebenarnya sangat jarang karena jalan besar, biasanya Warmindo banyak di jalan bagian dalam, bukan di jalan besar, saya pada awalnya hendak makan pizza mie tetapi kata masnya yang masak belum ada.
Akhirnya, dengan kekuatan super, Riay menawarkan diri untuk memasak pizza mie tersebut, sungguh konyol karena dia yang menyiapkan bahan, membuat bahan, hingga memasak ke dalam wajan dengan lihainya (ya iyalah secara lulusan tata boga di suatu universitas negeri di Yogyakarta), beliau memasak serasa restoran milik dia sendiri, dan saya pun sempat mengabadikan proses memasaknya, dan voila pizza mie a la Chef Riay pun jadi, kami akhirnya bisa menyantap dengan lezat.
Seusai makan, kami pun lanjut ke Klangon berbekal GPS, saya kali itu dibonceng Riay karena motor Budhonk yang sudah sepuh tidak bisa menanjak seperti dahulu kala, dan ternyata memang jaraknya agak jauh dari Sleman, dan jalannya pun agak menanjak karena menyusuri bukit. Sebelum tiba di bukit Klangon, kami sempat mampir dulu di tempat landai untuk berfoto dan bertemu dengan anak SD yang sudah menyetir motor telon (bertiga), dan jiwa guru Budhonk keluar untuk memberi penyuluhan bahwa anak SD belum bisa menyetir motor dan harus belajar yang giat. Seusai hal tersebut, kami pun lanjut ke Bukit Klangon.
![]() |
| Mbak Riay dan Pizza Mie (atas) dan Perjalanan Menuju Klangon (bawah) |
Akhirnya, kamipun tiba di Bukit Klangon, sebenarnya bukit Klangon ini pemandangannya indah karena berlatar belakang gunung Merapi, namun sayang hari itu sedang kabut sehingga pemandangannya kurang apik, namun tidak apa semua ada hikmahnya. Sebenarnya bisa camping di sini, fasilitas pun lengkap ada sarana warung dan MCK, namun kali itu lebih baik pergi pulang saja.
Foto-foto sambil rebahan sebentar di bale, kemudian Budhonk seperti menemukan ada celah kecil di antara rimbunnya pepohonan, lalu tanpa ragu-ragu kami pun mencoba masuk ke celah tersebut dan ternyata kami menemukan semak-semak dan hutan belantara dengan jalan setapak yang masih alami, wah saya mbatin ini baru petualangan.
Akhirnya, kami pun masuk dan trekking dalam hutan kecil, menurut saya walaupun tidak seberapa namun tetap seru dan bisa menikmati alam dengan indahnya, dengan rumput dan tumbuhan liar bersemayam di sana benar-benar salah satu wisata yang mengasyikkan walaupun tidak cocok membawa anak kecil karena banyak nyamuk. Namun, kalau lagi di sini rasanya lebih cocok untuk membuat klip ala-ala film India karena banyak pepohonan dan rerumputan yang cocok.
Ketika menemukan tempat kosong, kami pun sempat berfoto sebentar dengan menggunakan tripod dan rebahan sejenak demi melihat langit yang indah dengan alunan suara alam sayup-sayup sambil mengobrol sedikit sambil menyetel lagu yang dimiliki oleh Budhonk.
![]() |
| Suasana Alam di Klangon |
Dan lucunya, mereka berdua tanpa tendeng aling-aling dan tanpa bilang ke saya yang ada di belakang tiba-tiba langsung merosot ke bawah lembah tersebut, saya yang dibelakangnya pun harus sigap mengejar dan langsung ikutan merosot ke lembah juga, hanya saja medan mereka lebih enak daripada saya yang benar-benar tidak ada pijakan.
Saya tidak ada masalah dengan merosot ke bawah, bahkan tangan kiri memegang tripod dan tangan kanan memegang ponsel tetapi badan sambil ndelosor ke tanah ketika medannya lumayan curam tetapi karena medannya rerumputan jadi tidak ada masalah. Hanya saja saya agak jengkel saja mereka jalan tetapi tidak ngomong dan lihat belakang, dan ketika sampai bawah pun Budhonk masih bisa menggendong Riay dan berjalan sama sekali tidak melihat belakang seakan-akan mereka piknik itu hanya berdua, mending deh kalau masih ngawe-ngawe atau kasih aba-aba tapi realitanya pun tidak ketika saya sudah kasih tanda ke mereka dan mungkin mereka tidak sadar karena keasyikkan. Jengkel sih sebenarnya tetapi ya sudahlah.
Namun, untungnya saya masih bisa melihat arah mereka jalan jadi saya bisa ikuti dan tidak nyasar, cuma agak heran saja bisa-bisanya katanya 'kebersamaan' tapi kok tumben banget seperti ini. Kemudian saya coba susuri jalan setapak tersebut, dan dari jauh Riay pun berteriak menanyakan posisi, akhirnya berdasarkan observasi arah dan teriakan Riay yang merdu itu saya pun melewati lembah dan sedikit menanjak dan akhirnya ketemu juga dengan mereka.
Hanya saja ketika mau mencari jalan keluar, saya dengan Riay melalui jalan yang lain dan berbeda arah dengan Budhonk, Budhonk melewati arah menuju bukit yang tembusnya dari bukit sedangkan kami tembusnya langsung parkiran motor, tetapi untungnya jalan kita tepat sehingga kita bisa balik lagi ke parkiran motor, dan Budhonk juga bisa kembali (dari arah bukit) tetapi beliau sempat ada insiden yaitu karena jalan buru-buru mungkin tidak lihat-lihat atau bagaimana beliau jatuh gedebug dan suaranya kencang sekali.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk berfoto dengan jembatan bambu dengan pemandangan yang indah, hanya saja karena bambunya mungkin agak ringkih sehingga pas di atas kita terasa bergoyang kencang sekali dan seperti mau rubuh, untung kita semua mempunyai jurus memperingan badan sehingga kita bisa berfoto bersama-sama
Kalau Anda tahu sosmed saya, coba saja cek setiap saya jalan sama siapapun tidak ada anggota saya yang kurang. Kalau tidak ada di postingan, di story/tempat lain pasti ada.
Kalau Anda tahu sosmed saya, coba saja cek setiap saya jalan sama siapapun tidak ada anggota saya yang kurang. Kalau tidak ada di postingan, di story/tempat lain pasti ada.
Kembali lagi, kami pun memutuskan untuk berfoto di depan tulisan "KLANGON" , dengan ancang-ancang timer (tidak pakai remote), saya pun mengatur 10 detik dan ketika saya pencet klik maka saya harus lari secepat kilat karena lumayan jauh dari titik kamera dan untunglah masih bisa dapat angle yang tepat walau penuh perjuangan.
![]() |
| Pose di Klangon |
Setelah selesai berfoto, kami pun turun menuruni bukit untuk berjalan ke arah Kopi Klothok, namun di sini lah letak keseruannya, Riay mungkin ingatnya dengan jalan lama yang dahulu beliau pernah lewati. namun kenyataannya adalah jalana tersebut sudah ditutup menjadi jalur pasir padahal Waze sudah berteriak-teriak untuk puter balik, dan memang benar saja ternyata jalannya sangat luar biasa karena benar-benar off the road dan sangat licin serta berbatuan karena jalur trayek truk yang hendak mengambil pasir dari bekas erupsi Merapi, saya akui mereka emang nyetirnya sudah jago-jago dan untung kami tidak jatuh atau keserimpet. Tapi benar-benar pengalaman yang tidak akan terlupakan, mirip dengan kisah ku di Pantai Pink, Lombok dengan Simbok sepupuku.
Akhirnya setelah satu kilometer melewati jalan yang sangat parah tersebut, untung kami menemukan ada jalan tembus walau kecil dan gelap, tetapi tembusannya sudah jalan lintas provinsi dan saya mengucap alhamdulillah, akhirnya saya tetap menyalakan GPS dan saya rasa jalannya agak muter-muter menuju Kopi Klothok tetapi syukurlah bisa sampai dengan selamat di Kopi Klothok walaupun kondisinya masih ramai padahal sudah malam.
Kopi Klothok yang asli ada di KM 16 Jalan Kaliurang, jangan sampai salah. Dan jangan ke sini sewaktu jam makan siang atau malam dan hari libur karena sangat ramai sekali.
Gambar bawah : Makan gorengan di Kopi Klothok
Seperti biasa pengunjung sangat ramai sehingga saya yang sudah memesan gedang goreng (pisang goreng) dan sudah menunggu lama tetapi makanan tersebut tidak kunjung datang, begitu didatangi lagi alasannya kami yang tidak nyaut padahal tidak ada nama kita dipanggil, akhirnya saya pesan lagi baru diantar. Kami di sini hanya duduk-duduk saja sambil mengobrol dengan menyeruput teh dan kopi serta pisang goreng, Riay lagi pusing mengurus tantenya yang mau berangkat naik kereta ke Jombang dan pembayarannya juga sedang ribet sehingga fokusnya sedang terpecah.
Setelah selesai kami pun pulang, saya masih bareng dengan Riay tetapi karena nyetirnya bak Fast Furious dan sudah diingatkan juga tetapi karena mungkin sudah kemalaman jadi geber terus, eh tiba-tiba ada mobil apa truk di perempatan lewat dan bakekok untung rem motornya Riay benar-benar pakem parah, dengkul langsung lemes bro, nyaris nyaris......
Akhirnya, saya pun berpisah dengan Riay dan diantar Budhonk (tentunya dengan wejangan karena kejadian tadi) ke penginapan yang telah saya pesan (sebelumnya mampir apotek dulu, dengkul lemes) dan tanpa mengambil barang lagi karena saya sudah membawa cadangan pakaian, charger, dan dalaman di tas gemblok saya untuk jaga-jaga, sedangkan alat mandi sudah disiapkan oleh OYO, bahkan saya puas karena di sini rasanya seperti rumah sendiri.
Lucunya saya kesana pas sistem eror, terus orangnya mengeluh kepada saya "adoooh sistemnya lagi error mas", dalam hati saya mbatin lah mana gw tau mas, dan ternyata masnya juga lagi memberi ajaran kepada anak buahnya yang baru perihal tata cara check-in, jadi makin lama. Tapi setelah urusan beres mas nya jadi baik lagi, dan saya diantar ke kamar dan saya tanya kok logatnya aneh, ternyata asalnya dari Cikarang, oo pantes.
Setelah menengok kamar dan taruh barang, saya turun lagi dan sempat mengobrol sebentar dengan Budhonk di lobi, dan malah dikasih minum sama masnya yang jutek tadi dua biji, mayan banget lah.
Akhirnya, setelah Budhonk pulang, saya langsung beristirahat.
Akhirnya, setelah Budhonk pulang, saya langsung beristirahat.





Komentar
Posting Komentar