Ulasan : The Royal Seminyak Beach Hotel - MGallery Bali


Prolog


Kami adalah anggota AccorPlus (member hotel), dan kebetulan mempunyai jatah menginap gratis (Stayplus), tentu kami memilih hotel yang termahal dan terbaik, setelah penelusuran yang mendalam, saya memilih hotel yang harus berbudaya Bali, bintang lima, dan megah mumpung gratis, akhirnya pilihan jatuh kepada hotel ini dengan upgrade kamar ke tingkat Deluxe.

Waktu yang ditunggu pun tiba...

Di Hotel...


Begitu masuk gerbang mobil, aura hotelnya benar-benar seperti resor dengan pengamanan maksimum, tetapi agak kurang asem kita ditanya detail sekali dengan satpam , "mau ngapain?" "sudah ada reservasi?" "apa saja yang dibawa?" dll. bahkan semua pintu kecuali pintu depan dibuka termasuk pengecekan pada bawah mobil, itupun satpam yang nanya sampai kepalanya nongol ke dalam mobil, lo kira kami Gocar kali ya. Tapi ya sudah mungkin demi keamanan bersama lah.


Gambar penjagaan yang begitu ketat dengan peta hotel

Tiba di lobi, concierge dan satpam siap membantu untuk membawakan barang-barang kami yang lumayan banyak, namun entah mengapa menginap di hotel berbasis aplikasi seperti OYO, Airy bisa lebih ramah daripada hotel bintang lima kelas internasional karena di sini agak jutek. Setelah barang diangkut, saya pun diberi kartu yang nanti diberikan pada resepsionis, nanti barang kita akan diantar ke kamar langsung.


Hotel ini terlihat tua, karena dibangun pada awal tahun 1990-an dan menurut info yang saya dengar dari petugas, pada awalnya hotel ini bernama Hotel Imperial yang masih ada hubungan dengan hotel di Tokyo, kemudian berganti manajemen pada tahun 2000-an menjadi Sofitel Bali, dan beberapa tahun ini ganti nama menjadi MGallery (dikarenakan Sofitel pindah ke Nusa Dua), namun secara arsitektur keseluruhan, saya tetap suka karena menonjolkan khas Bali. Kalau tidak salah yang merancang arsitek ternama dari luar negeri pada zamannya.






Kesan budaya Bali tradisional benar-benar sangat terasa dalam interior, namun memang hotel ini perlu dipugar, lobinya luas dengan gaya semi outdoor tanpa pendingin ruangan, resepsionis nya pun cakep logat Bali tetapi aslinya orang Belitung (wah inget Budhonk sohib gw) cuma bedanya orangnya ini imut-imut perawakannya, namanya Rara sampai 'digodain' sama kakak ku dan diajak ngobrol ternyata walau lebih muda dari saya tapi magangnya di Amerika Serikat, waduh puyeng.




Saya belum bisa dapat kamar langsung pada pagi hari, karena dapatnya terpisah gedung, dengan bersabar dan resepsionis menelepon manajer, akhirnya bisa hanya saja harus siang hari. Tapi tidak apa, saya bisa ke Krisna dulu untuk belanja dan menjemput keluarga ku yang ada di sana.

Kamar


Kami menginap di Deluxe Room, kamar ini berada di harga Rp3.850.000, dan untungnya karena kami adalah member AccorPlus dan menggunakan jatah Stayplus, kami hanya perlu bayar biaya upgrade room sebesar Rp450.000 yang mana harga tersebut serupa dengan hotel bintang tiga di Yogyakarta. Begitu masuk kamar ya ampun kamarnya memang besar sekali, dengan plafon menyerupai atap genting (tidak datar) dan lumayan tinggi, mungkin ada 4,5 meter.







Sayangnya menurut saya kamarnya biasa saja dan tidak terlalu mewah bahkan lebih mirip hotel bintang empat lama, karena faktor umur dan material mebel yang digunakan juga sudah kusam terutama kayunya ditambah juga finishing nya berwarna gelap yang jadi mengukuhkan kesan tua, kalau diperbaharui lagi mungkin jauh lebih baik, begitupun lantai di depan pintu kamar dan kamar mandi yang sudah kusam walaupun itu materialnya adalah marmer. Lampunya juga terlihat seperti di rumah-rumah kebanyakan, bukan yang didesain dengan iluminasi yang memperhitungkan lumens.


Tetapi, hotel ini mempunyai teras/balkon kecil di belakang, tidak terlalu besar namun bisa untuk ngobrol-ngobrol, hanya saja pemandangannya adalah pohon dan tembok hotel sebelah, sehingga teras ini terasa tidak berguna, lagian banyak nyamuk.



Di dalam mini bar tersedia teko beserta alat minum, cemilan murah tetapi di jual dengan harga sangat tinggi, air minum botolan kaca (seperti Aqua zaman dahulu) merek lokal Bali, teh Sir Thomas Lipton (yang harganya 4,5 kali lipat dari teh Sariwangi, tetapi mirip dengan Dilmah).


Sedangkan di meja kecil terdapat hadiah, jika biasanya member Accor mendapat kue atau coklat tetapi tidak dengan ini, kami mendapatkan salak bali dengan kertas kecil dan ada gambar salak dengan caption alias embel-embel "an Indonesia fruit with blablabla", karena bule tidak mengenal salak. Sebagai orang Indonesia, masa kami disuguhkan salak karena di pasar juga bisa beli, tetapi tidak apa itulah budaya lokal. Tetapi untungnya di samping salak tersebut juga disuguhkan Aqua Reflection walau saya tidak tahu itu bayar apa tidak.




Di lemari terdapat brangkas, sandal (yang lumayan enak bahannya) dan laundry bag, namun, agak disayangkan di kamar tidak ada seterika dan speaker weker (rata-rata MGallery di Indonesia memang jarang karena harganya kurang dari Rp1.000.000/an, tetapi untuk harga segini sih mestinya ada), eh tapi kami kan gratisan.


Colokan tersedia cukup banyak walaupun hotel tua, jadi tidak perlu khawatir kesulitan mencolok dan mengisi daya baterai yang sudah habis.

Kamar Mandi


Lalau dilihat dari fasilitas, kamar mandi memiliki unsur kemewahan karena terdapat shower room, yang dipisah dengan bak mandi (walaupun saya tidak jadi berendam karena airnya agak berpasir), toilet monoblok yang terlihat masih baru dengan dudukan eco-washer, washtafel hanya satu tetapi mejanya sangat luas, dan amenities seperti sabun, shampoo, alat jahit lengkap. Agak disayangkan sabun dll tidak ada mereknya.

Di dalam shower pun juga disediakan sabun, shampoo, dan kondisioner botolan jadi enak karena bisa puas mandinya, karena tidak memakai botol yang mini, malah botol yang mini bisa digunakan untuk bahan berendam atau sekalian di bawa untuk oleh-oleh.

Selain itu, tersedia juga bath robe atau baju mandi, dan cermin bulat besar atau bahasa kerennya magnifying mirror, gelas untuk berkumur dan botol air minum kaca, serta pembuka botol.




Fasilitas Hotel


Saya sempat mengelilingi hotel ini ketika malam dan pagi hari sekalian jogging, yang saya rasakan hotel ini memang besar, di bagi dalam beberapa gedung utama dan villa privat yang harganya sungguh mahal, namun yang aneh pemandangan di gedung utama tidak ada pemandangan yang langsung menghadap ke laut, karena ketutupan oleh taman dan bangunan vila di depannya, kalaupun kelihatan ya hanya samar-samar.


Hotel ini kalau sudah malam memang agak remang-remang, jadi harus hati-hati jangan sampai kesandung. Dan tips dari saya, pastikan dapat kamar dekat dengan lift dan lobi dan jangan mau terlalu belakang, selain jalannya jauh banget dari lobi juga kesan '.....' apalagi kalau malam hari.


Gambar : Bangunan utama (atas), dan vila (bawah)

Kolam renangnya di luar ekspetasi, terlalu ramai dan agak kecil untuk level kelas hotel berbitang di Bali, lebih mirip hotel bintang empat biasa, saya kira bakal luas dan lebar dan benar-benar infinity swimming pool, agak mengecewakan.



Tetapi di bagian belakang hotel, terdapat kolam renang lain yang lebih privat dan di tulis "for adult only", tetapi pas saya masuk ternyata tidak ada seorang pun yang berenang, sayang sekali siapa tahu saya menemukan objek yang bagus. Karena tidak ada orang maka saya menyempatkan diri untuk swafoto saja.





Di daerah kolam renang utama terdapat restoran, bar pinggir kolam renang, dan taman kecil untuk memisahkan antara area hotel dan pantai umum. Hotel ini memiliki akses langsung ke pantai Seminyak hanya saja harus melewati jalan setapak terlebih dahulu yang merupakan halaman (biasanya kalau malam ada outdoor baberque tetapi harga yang ditawarkan adalah harga bule).Enaknya, kami bisa menikmati suasana senja di pantai dengan berjalan kaki dari hotel, memang bukan senja yang terbaik, tetapi lumayan lah.




Di halaman hotel juga terdapat beberapa petugas keamanan yang berjaga-jaga untuk keamanan tamu hotel, biasanya nih orang Indonesia pasti akan dibedakan perlakuannya, saya mau iseng sedikit.

__

Pagi hari, saya iseng untuk jogging sekalian foto-foto sendiri di pinggir pantai dengan tripod untuk kenang-kenangan, sayang hari agak berkabut waktu itu, nah saya pun hendak kembali ke hotel dan mau sedikit "iseng", karena ada petugas yang berdiri melihat saya begitu tajam, akhirnya saya datangin dan saya langsung cuci kaki (ada tempatnya) yang kebetulan dia berdiri di samping saya, siapa tahu saya mau ditanya-tanya.




"Ini sepertinya hotelnya isinya bule semua ya"

"Iya orang Indonesia memang jarang menginap di sini, rata-rata di Kuta karena harganya tidak mampu"

"Oalah, BTW kok saya tidak ditanya-tanya kalau saya tamu hotel apa bukan, kan bisa saja saya nyaru sama yang lain"

"Saya sudah tahu masnya menginap di sini dari kemarin kan saya yang nyambut, lagian kita harus hafal siapa-siapa saja yang menginap, lagipula sepertinya hanya mas nya yang orang Indonesia"

"Oalah.."

Kesimpulan : satpamnya memang ramah, syukurlah


Jadi, hotel tersebut memang hampir penuh, namun semuanya adalah tamu asing, dan WNI hanya kita saja di hotel tersebut pada saat itu, yang dipertegas dengan pengakuan resepsionis, karena saya sama sekali tidak menemukan orang Indonesia kecuali karyawan, semuanya asing.


Fasilitas lain adalah fitness centre dan spa namun saya tidak mencoba, tetapi saya sempat mengintip bahwa suasana fitness centre nya agak tua dan perlu diperbaharui. Sedangkan di lantai yang sama dengan pusat kebugaran, terdapat permainan congklak dan catur serta tenis meja, saya malah menyempatkan diri untuk tanding congklak walaupun kalah, catur pun baru setengah main sudah bubar. Tapi, ibuku tanding dengan keponakan ku, menang main congklak. Hebat tidak tuh hotel berbintang masih menyediakan mainan tradisional, lebih seru daripada main gawai.




Hotel ini mempunyai beberapa restoran, tetapi yang biasa digunakan adalah yang dekat dengan kolam renang utama, terdapat restoran Jepang juga. Karena kami adalah budget traveller yang kebetulan nyasar di hotel berbintang maka saya memutuskan untuk makan BK di luar walaupun bapak ku memaksa karena bisa diskon 50 persen, hanya saja tidak efisien.


Di sini juga ada shopping arcade kecil-kecilan (terlihat model hotel zaman dahulu yang ada toko-toko) yang menjual kebutuhan sehari-hari, pakaian, dan barang antik dengan harga yang jauh lebih mahal daripada di luar. Tempat parkir agak terbatas untuk ukuran hotel berbintang dan tidak ada parkir bawah tanah, semua on ground.


Lift, sepertinya liftnya perlu diganti dengan merek yang lebih terkenal karena ketika saya naik liftnya rasanya kurang nyaman dan kurang halus, serta interiornya terlihat tua (bahkan lift yang di bagian belakang rasanya seram karena remang-remang, saya naik liftnya tidak tertutup, bahkan posisinya benar-benar di tempat yang jarang di lewati orang). Semoga bisa diperbaiki. Bahkan pernah sekali waktu, saya naik lift, liftnya tidak mau menutup usut punya usut karena tombol di luar nyangkut, jadi disangka ada yang mencet dari luar.



Kesimpulan




Jika saya harus membayar penuh, maka saya kurang merekomendasikan hotel ini, untuk harga segitu bisa dapat hotel dengan fasilitas yang lebih baik, model bangunan lebih baru dan megah serta modern dengan sentuhan gaya Bali, dengan servis yang jauh lebih baik. Hotel ini menang di lokasi saja karena di tengah wilayah Seminyak dan keramaian.


Untuk fasilitas di hotel ini saya rasa standar, terutama kolam renang yang menurut saya terlalu imut untuk hotel kelas bintang, dekorasi kamar juga sudah terlihat tua dan fasilitasnya kurang seberapa lengkap. Lebih baik menginap di Sofitel Nusa Dua yang masih satu grup (tetapi, Stayplus menginap gratis tidak bisa diterapkan di sana, paling hanya diskon). Tetapi karena saya menikmati fasilitas saja, menurut saya acceptable alias dapat diterima.


7.5/10

Komentar