[Mid ’18] Jawa : Kisah Naik Kereta Super Jauh, dan Yogyakarta & Klaten Secara Singkat.




Saya hanya sedikit bercerita kisah dan pengalaman saja, lebih kepada narasi. Tidak ada ulasan atau tips dan trik detail.

__________


Saya dan Simbok berangkat menggunakan transportasi online dari hotel menuju Stasiun Banyuwangi Baru dan karena kami sudah check-in maka kami tidak perlu mengantre panjang lebar lagi. Kemudian kami pun naik kereta Sri Tanjung dengan tujuan akhir Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.




Stasiun Banyuwangi Baru dengan KA Sri Tanjung

Benar, kali ini kami naik kereta dari ujung ke ujung stasiun, dari ujung pulau ke tengah pulau, dengan waktu tempuh adalah 13 jam menggunakan kereta ekonomi. Saya jujur kalau ada teman mah asyik saja mau naik apa juga, paling keluhannya hanya pegal linu saja. Dan ini bukan kereta terlama dan terjauh yang saya naiki, saya pernah naik Majapahit dan lumayan pegalnya.




Suasana Kereta, Masih Yang Lawas

Kami duduk di kursi nomor 2 karena Simbok tukang beser, tetapi tidak enaknya adalah terlalu dekat pintu sehingga kami jadi tukang tutup pintu, namun kursi nomor 2 itu enaknya adalah kita menghadap searah dengan arah jalan arahnya kereta (tapi nanti jadinya mundur, kan lucu),


Tips sedikit (mungkin tidak akurat sekarang), kalau dari Banyuwangi, kursi genap akan menghadap sesuai jalannya arah kereta, tetapi sampai Gubeng dst maka akan terbalik menjadi ganjil, sedangkan yang genap jadi menghadap berlawanan dari arah kereta jadi agak pusing.


Tidak usah banyak ulasan, intinya naik ekonomi ya pegal, tetapi kami sudah biasa naik ekonomi jadi tidak masalah, dan untung pemandangannya bagus, kami habiskan waktu untuk ngobrol, tidur, melihat foto di Lombok dan Bali, serta beberapa kali menggunakan waktu untuk makan di kereta api, yang pertama makan sarapan yang dibawa dari hotel dan selanjutnya adalah makan dari makanan yang disuguhkan pramugara di kereta api, saya meminta ayam geprek dan karena lapar jadi rasanya makanan Reska jadi enak banget.




Pemandangan Dari Kereta

Ketika tiba di Gubeng, saya pun merebahkan badan alias turun dari kereta sambil foto-foto karena saya punya banyak kenangan masa kecil di Gubeng. Kemudian dari sini kereta berjalan dari arah sebaliknya (jadi yang awalnya kita menghadap sejalan dengan arah kereta menjadi berlawanan seperti yang sudah dijabarkan di atas), duh agak pusing memang tapi bodo amat sudah biasa.


Singkat cerita, kami tiba di Lempuyangan dan sudah janjian dengan Mas Edi, sopir taksi bandara yang sudah menjadi langganan sejak saya masih SD hingga sekarang (walaupun sudah jarang menggunakan jasanya lagi). Kemudian kami menjemput mamahnya Simbok yang baru datang dari Balikpapan, baru tancap gas ke Klaten dan tidur di rumah eyang.

Sedikit tips, kalau mau memesan transportasi daring jalanlah ke arah flyover, kalau perlu jangan di kolong flyover tetapi agak ke depan lagi. 




Stasiun Lempuyangan dengan latar Solo Express

Sampai di Klaten, kamipun langsung sowan eyang, dan ternyata di sana sudah ada bude ku dari Malang. Akhirnya, kami tidur, karena capai di kereta. Keesokan harinya kami pun melakukan pijat dengan Mbak Ade, wah pijatannya benar-benar mantap sekali badan yang kaku jadi luwes kembali dan saya selalu mengobrol dengan beliau tentang teknologi. Setelah pijat, entah mengapa saya ketika melihat ponsel tersadar akan sesuatu fakta dan saat itu saya memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan kawan lama saya di Jakarta, karena heran kok bisa sesuatu yang seharusnya tidak terjadi menjadi terjadi.


Hari berikutnya setelah pijat kemarin, saya bersama Simbok dan mamanya serta bude (kita sebut mamanya dan bude ku menjadi 'incess' dari kata princess saja biar mudah) berangkat ke Yogyakarta, saya memutuskan untuk menginap hotel bersama kedua incess dan Simbok akan menginap di hutan pinus bersama kawan lamanya, para wanita petualang. Saya waktu itu sedang tidak mood.


Di Stasiun Klaten, tempat keberangkatan kereta, sebenarnya ada kisah tentang kembalian, yang intinya kami menjadi membayar tiket kereta lebih mahal dari biasanya, tapi yowes tak perlu diceritakan mungkin sedang kurang fokus. Lalu kami dapat kereta naik Solo Express (karena Prameks kelamaan dan Simbok sudah ditunggu oleh temennya di Yogyakarta) dan baru pertama kali untuk kami semua, dan sebenarnya Simbok sudah berkhayal ingin coba kereta bandara di Jakarta rasanya bagaimana eh kesampaian di sini, rezeki mu memang (karena KA ini nantinya hendak dipakai sebagai KA Bandara Solo walau kenyataannya kok jadi ke Kulon Progo), menurut saya keretanya lumayan bagus, ada colokan juga, bersih dan toiletnya mirip pesawat. Oke lah untuk standar Indonesia walau mungkin ada beberapa finishing yang perlu dibenahi agar terlihat lebih waw.


Interior kereta dan toilet
Singkat cerita, tiba lah di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya mengantarkan dia ke kawannya, sebut saja namanya Budhonk, seorang wanita petualang yang tangguh dan suka bersajak, begitu ketemu mereka berdua langsung berpelukan dan Simbok seperti dicekek karena tangannya Budhonk mempunyai tenaga yang luar biasa. Saya sebenarnya kenal dengan Budhonk.




"banyak teman masa lalu membuatmu rindu"...

Oke, akhirnya perjalanan saya dengan Simbok untuk sementara waktu akhirnya berpisah sampai di sini , saya memutuskan untuk berjalan-jalan dengan incess serta menginap hotel di Dagen dan Simbok nge-camp di hutan pinus bersama kawan-kawanya (sebut saja MR.DOOSSS).

Saya menginap di Hotel Jentra, hotel bintang tiga biasa, semua serba biasa saja, tetapi koridornya outdoor jadi orang bisa merokok di luar, bude saya terlihat sangat senang menginap di sini, langsung kursi dari kamar dikeluarkan dan dengan enaknya langsung ngebul di luar, tetapi saya juga sudah wanti-wanti jangan merokok di kamar atau denda Rp1.000.000,-




Hotel Jentra

Kemudian, setelah bersih-bersih diri, kami pun berjalan-jalan ke Pasar Beringharjo, incess belanja dengan amat riangnya, apalagi bude saya, setiap orang ditanya bagus tidaknya barang yang beliau pilih, bahkan ada sekali waktu budeku nanya tanteku tentang pendapat suatu barang, terus ada penjual yang nyeletuk "bagus buu", eh bude ku langsung memberi telunjuk sambil ditempel ke bibir nya "diaam mulutmu aku gak nanya kamu".


Tanteku langsung salting dan minta maaf ke orangnya, sebenarnya itu bakal nguakak parah kalau posisinya juga sedang berada di situ. Akhirnya singkat cerita ketika semua sudah puas belanja hari sudah mulai sore kemudian balik ke hotel.


Kamipun makan siang di pasar dengan pecel atau lalapan, nama lokalnya lupa tetapi yang pasti rasanya enak, dan murah serta berkualitas, sangat mantap. Benar-benar menikmati lokal.




Lalapan

Malamnya, bude ku katanya sedang banyak duit karena baru dapat transferan dari anaknya di Malang, oleh karena itu kami bertiga pun mencari ATM BRI, kemudian dimasukkanlah kartu tersebut ke dalam mesin dengan dibantu oleh tanteku, budeku hendak mengambil Rp500.000 dan sayangnya, ATM bilang transaksi gagal terus.


Bude ku sewot "ini udah ditransfer kok ngga bisa sih", kemudian saya berinisiatif untuk menyarankan cek saldo dan benar saja saldonya hanya Rp50.000, mana mungkin mau ambil Rp500.000. Di sini saya dan tante ku nahan ketawa.


Langsung budeku telepon putrinya sambil was wes wos abcdef panjang lebar ternyata usut punya usut bude ku salah mengambil kartu ATM, ternyata yang dimasukkan adalah ATM yang memang kosong dengan gambar satelit, sedangkan yang ada uangnya adalah yang gambarnya polos. Aduh aku sama tante ku kepingkel luar biasa di situ bertigaan. Yang bikin lucu adalah budeku bilang gambar satelit adalah pentungan. Sebenarnya kalau ada di TKP sih bakal ketawa parah.


Keluar dari ruang ATM, kami masih cekikikan sambil ngeloyor pergi sambil mencari makan di lesehan dekat Jalan Dagen, dan rasanya enak walaupun harganya agak mahal karena di pusat turis.




Suasana Dagen

Besoknya, kami pergi lagi ke Beringharjo dengan menggunakan becak bertiga, incess borong lagi terutama bude ku, dan saya sempat memilihkan tas rotan untuk bude ku, dan sepertinya memang suka sekali. Bahkan ketika kembali lagi ke hotel, bude ku :


"Mbak, tas saya bagus kan mbak, ini ponakan saya loh yang milih, ponakan ku yang ganteng, bagus kan mbaaaaak" - Ke Resepsionis

"Wah saya seneng banget mbak saya bisa dapat harga murah nawarnya, bagus loh mbak sandal saya" - Ke Resepsionis 2

"Misi mas, saya mau borong lagi ke Beringharjo, ngomong-ngomong sandal saya bagus ya mas, ini murah loh mas, dapat sekian,". - Ke Concierge / Tukang Jaga Pintu

Semua dipamerkan, saya tahu sih maksudnya bangga, tetapi aku dan tante ku jadi tersepu malu. Tidak apa-apa jadi ada hiburannya malah hahaha.


Kemudian, kami menunggu Simbok yang belum datang dari hutan pinus, dan setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dia datang juga dan diantarkan oleh temannya, Dipek. Namun, pertemuan dengan Dipek sangat singkat karena dia harus kembali ke kos untuk mandi dan pelayanan di Gereja.


Ketika Simbok datang, kami pun memesan transportasi daring walaupun tujuan di aplikasi adalah Ambarrukmo Plaza tetapi kami tembak ke Klaten dan syukurlah orangnya mau, dan bude saya tetap saja bikin banyolan, baru kali ini ada tamu yang pamit ke resepsionis dan concierge sambil berkata hotelnya enak, bisa rokok, saya suka sekali, saya kalau ke Yogya akan kesana lagi (tapi benar loh, tante ku akhirnya balik lagi ketika lebaran haji !), keren bude.


Setelah mobil yang dipesan datang, kami langsung cus ke arah Klaten namun detour atau putar arah ke Ringroad dan malah mampir ke Lotte Grosir dahulu perihal membeli televisi untuk eyang, baru kemudian perjalanan lanjut lagi ke Klaten sangat mengasyikkan karena pengemudinya asyik, alhasil kami beri tip tambahan karena mau menunggu dua jam tadi di Lotte, lumayan untuk bensin setengah tank Avanza.




Proses Merakit Televisi

Agenda hari berikutnya adalah pergi ke makam eyang untuk nyekar, kemudian dilanjut dengan makan bakso yang enak didekat toko JM dan malah sekalian mampir ke toko JM yang merupakan toko kerudung yang cukup besar di Klaten.


Selesai dari JM, kamipun melanjutkan perjalanan dan di tengah perjalanan , kami menemukan sesuatu yang menggelitik dan ironi, ada sebuah toko baju namanya Modern dengan jargon "Koleksi Busana Masa Kini" tetapi bentuk fasad bangunan dan etalase nya seperti tahun 1970an, yang benar-benar kuno dan pakaiannya pun sudah kuno. Benar-benar ironi. Semoga sekarang sudah direnovasi.


Perjalanan hari itu diakhir dengan berbelanja ke Toko Laris karena tanteku hendak membeli koper untuk persiapan ke Bangkok bersama keluarga inti ku, serta berbelanja kebutuhan logistik untuk di kereta menuju Jakarta dan Bangkok, tetapi saya tercengang loh Toko Laris yang kelihatannya biasa sekali tetapi mempunyai lift !




\Toko Modern dan Toko Laris

Puas berbelanja, kamipun mampir stasiun untuk cetak boarding-pass dan pulang ke rumah. Beberapa hari kemudian, kami berangkat ke Jakarta bersama dua tante ku dan Simbok namun bude ku tidak ikut karena berdiam diri di Klaten, kami ke Jakarta dengan kereta api ekonomi dan turun di Jatinegara, yang kemudian dijemput oleh sepupuku dan menginap di rumahnya di Cirendeu, Tangerang.


Usai sudah perjalanan saya dengan Simbok walau sempat bertemu beberapa waktu, dan perjalanan kami benar-benar diakhiri di Bandara Soekarno Hatta, dia terbang ke Balikpapan dan saya ke Bangkok, dari awal sampai akhir benar-benar sama sepupuku itu.


Dan, menariknya sebelum kami berpisah, Simbok sempat mencoba Skytrain atau Kalayang bandara CGK, yang merupakan buatan Korea, tetapi payah jalannya pelan dan interval kedatangan (headway) nya waktu itu masih 13 menit sehingga tidak efisien, bahkan saya hampir telat boarding ke Terminal 3. Dan selesai sudah perjalanan tengah tahun saya bersama Simbok. See you on the next journey !!!!!




Simbok Mencoba Kereta Buatan Korea, WOOJIN.

FIN, selesai.

Tetapi edisi liburan tengah tahun tetap lanjut ke Bangkok.

Komentar