Kisah Singkat : Menemani Sahabat Baksos dan Kunjungan Singkat ke Klaten
Merupakan bagian dari “Dolan Dewe – Mei 19”KLATEN-YOGYAKARTA – 4 MEI 2019
Saya pada awalnya tidak tahu mau kemana selama hari itu, saya mencoba untuk rebahan saja di hotel dan sorenya hendak lihat kolam renang, lah kok tidak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul enam dan cuaca di luar sudah gelap karena hari sudah mulai malam. Wah kacau dah, karena waktu di Yogyakarta itu memang terasa lebih cepat dibanding di Jakarta apalagi di Surabaya. Dan saya sempat bingung mau makan malam dengan apa.
Untungnya, sahabat saya di Yogyakarta yang merupakan anggota para wanita petualang MR.DOOSSS (cerita lengkap anggota ini ada di postingan terdahulu) yaitu Budhonk mengabari saya dan menanyakan saya menginap di mana hari itu, saya bilang di Victoria Hotel dan kebetulan beliau sudah selesai rapat dan hendak mengajak saya untuk menemaninya dalam kegiatan bakti sosial, dan kebetulan hotel saya menginap searah dengan tempat rapatnya. Untuk sekedar info Budhonk ini sangat aktif di kegiatan komunitas dalam bidang sosial ataupun alam, bahkan beliau terlalu mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan komunitasnya karena saya lihat setiap hari rapat terus, tetapi malah bagus jiwa sosialnya sangat tinggi.
Singkat cerita, pada pukul 7 malam, Budhonk pun menjemput saya di hotel dengan motor sepuhnya yang sudah menemani 10 tahun, walaupun pada awalnya beliau sempat nyasar ketika hendak datang karena posisi Hotel Victoria yang ngumpet di belakang Hotel Ambarukmo jadi agak membingungkan. Kemudian, kami pun bertemu dan saya diajak menuju daerah Condong Catur untuk makan malam dan pilihan jatuh kepada W.S.
Menurut saya W.S sekarang sudah banyak pembenahan dan kemajuan, restoran dan interior yang semakin bagus dan nyaman menu yang lebih variatif serta semakin ramai dan pembayaran bisa menggunakan debit,walaupun konsekuensinya adalah harganya semakin mahal jika dibandingkan dengan kunjungan saya yang terakhir bersama sepupu saya, Icha yang dari Kalimantan pada tahun 2017 silam.
Kami pun memesan makanan sesuai selera (saya memesan setik Tenderloin kalau tidak salah) dan sistemnya adalah selesai memesan langsung membayar di kasir seperti makan Solaria. Kemudian sambil menunggu, kami ngobrol masalah ulang tahun kawan kita Dipek, dan akhirnya diputuskan konsepnya adalah alam (kisah ada di postingan selanjutnya), walaupun rencananya adalah besok mesti rekaman, tetapi sayang kawan yang satu lagi (yang akan diajak) tidak bisa sehingga harus molor menjadi dua hari lagi yang otomatis menunda kepulangan saya hingga dua kali.
Selama makan malam, kami juga memberi salam kepada anggota kelompok lain di berbagai daerah di Indonesia dengan rekaman video. Mereka dahulu di Yogyakarta namun sudah kembali ke daerahnya masing-masing.
Selesai makan, kami pun naik motor lagi dan Budhonk pun mencari Warmindo atau warung yang menjual nasi bungkus untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Oh iya konsep baksosnya adalah hit and run, jadi ketika Budhonk memberi, kami harus langsung pergi tetapi harus diabadikan dengan dokumentasi nah kebetulan saya jadi sesi dokumentasinya. Hmm..
Ternyata agak sulit mencari Warmindo atau warung yang bisa masak makanan secara banyak, untung setelah beberapa kali putaran akhirnya ketemu juga di daerah Seturan, Budhonk pun membeli 10 nasi bungkus waktu itu dan menunggu agak lama juga karena harus dimasak terlebih dahulu.
Singkat cerita, kami pun berputar-putar mengelilingi kota di malam hari untuk mencari orang yang membutuhkan seperti homeless.
Tujuan dari bakti sosial hari ini adalah menghabiskan 10 makanan yakni nasi bungkus yang telah dibeli oleh Budhonk tadi, dan syukurlah kami mendapatkan target dengan lumayan cepat, rata-rata adalah homeless yang sedang beristirahat ketika telah menyelesaikan aktivitas pekerjaannya, ada juga kami menemukan pemulung ibu-ibu yang membawa anak kecil dan mungkin juga homeless, dan beberapa orang lain yang membutuhkan dan saya membantu Budhonk untuk mengdokumentasikan walaupun kamera sedang kurang berkompromi.
Jadi, moral storynya adalah bersyukurlah dengan apa yang kamu dapat saat ini, dan jangan melihat ke atas terus, sesekali lihat ke bawah ternyata banyak orang yang tidak beruntung bahkan mencari makan saja sangat sulit. Bahkan ada dari mereka yang tidak bisa tidur nyenyak karena tidak punya rumah, kalaupun punya sudah jelas kurang layak dihuni dengan baik. Sebisa mungkin, juga kita jangan pernah merendahkan orang yang lebih "membutuhkan", belom tentu kita bisa lebih baik darinya baik itu dari segi hati, iman, atau sifat.
Singkat cerita, setelah sepuluh nasi bungkus dibagikan dengan sempurna tanpa ada suatu kurang apapun juga, saya pun dibawa kembali ke hotel karena hari sudah malam.
Harusnya keesokan harinya saya membuat video ulang tahun untuk Dipek dengan mereka dan jika sudah selesai maka malam atau pagi keesokan harinya saya bisa pulang naik pesawat dengan target mengejar hari sebelum puasa, namun sayang dikarenakan ada kawan yang tidak bisa di hari itu sehingga saya menunda lagi kepulangan saya dan lebih memilih menginap di rumah eyang saja sehari baru kembali ke Yogyakarta dan menginap di suatu tempat untuk mengejar kereta pagi dari Tugu.
Akhirnya saya pulang lusanya menggunakan kereta api Bogowonto yang sekarang sudah ada eksekutifnya, dan hari saya pulang ke Jakarta ternyata sudah kena bulan puasa hari pertama. Dan akhirnya, keesokan harinya setelah baksos, saya pun melihat kolam renang sekilas sambil video call sama mereka-mereka (anak MR.DOOSSS) dan siangnya saya memutuskan untuk check out dan berangkat ke Klaten dengan transportasi online untuk bermalam di rumah eyang saya.
Malamnya, kira-kira pukul 7 lebih, saya diajak tante saya beserta keluarganya (sepupu beserta putra dan suaminya) beserta saudara jauh yang namanya Mas Rud (pertemuan pertama ada di kisah tahun 2018). Saya pun ikut Mas Rud dengan motor matiknya menuju ke suatu tempat di daerah Wedi untuk makan penyetan yang sudah terkenal (nanti saya cek namanya) dan saya kagum ada ayam kampung namun ukurannya besar sekali ! Seperti ayam biasa dan rasanya enak serta mengenyangkan perut apalagi dipadu dengan teh poci. Wah mantap jiwa!
Selesai penyetan, kami pun ngobrol di rumah eyang saya sampai jam 11 dan ketika mereka sudah pulang. Kami pun tidur.
Paginya saya naik kereta ke Yogyakarta (lanjutannya ada di postingan selanjutnya di bawah). Sekian kisah singkat dari saya, terima kasih telah membaca.
Maaf fotonya menyusul ya dan akan diunggah jika ada laptop. Foto di bawah sebagai ilustrasi cepat untuk bayangan pembaca. Terima kasih.
![]() |
| Baksos dan Penyetan |

Komentar
Posting Komentar