Sebenarnya kami ke Puja Mandala tapi kadung males ngetiknya lagi gara-gara menghilang (aneh nih Wordpress), intinya gedungnya bagus-bagus arsitektur nya dengan ragam corak agama yang berbeda-beda tetapi bisa rukun dalam satu komplek.
Dari penginapan, kami memesan transportasi online menuju Terminal Ubung, sayang waktu itu pengemudinya kurang ramah dan diam saja. Perjalanan dari Sunset Road ke Ubung memakan waktu 30 menit lebih.
Terminal Ubung
Baru turun dari mobil saja sudah banyak calo yang mengerubuti kami untuk menawarkan bus ke Jawa dan kota-kota lain di Indonesia. Sebenarnya yang penting adalah begitu datang langsung cari bus yang merupakan pemberhentian Gilimanuk.
Ngomong-ngomong ini jarang ditulis di laman atau blog manapun, letak bus ke Gilimanuk itu DI AREA BELAKANG TERMINAL, bukan di depan area terminal, jadi begitu sampai langsung jalan cepat ke belakang terminal yang ada toko-toko/warung. Dan bus antar kota setahu saya sudah pindah ke Mengwi yang jauh lebih bagus dan lebih besar namun jauh jaraknya dari kota.
Kalau Anda mau ke luar kota apalagi ke Jawa, atau mau ke Banyuwangi menggunakan bus AC mending naik bus pengumpan TransSarbagita ke Mengwi seharga Rp6.000 (harga waktu itu) yang mangkal di dekat toilet terminal, jangan naik bus antar kota dari sini bisa saja Anda kena jebakan karena ke Ubung itu hanya sisa beberapa bus kecil saja, ibarat Terminal Pulogadung saat ini yang operasionalnya sudah pindah ke Terminal Pulogebang. Kami sebenarnya agak keliru juga, tetapi tak masalah lah untuk pengalaman.
Namun, masalahnya adalah lagi-lagi tidak ada papan petunjuk atau signage yang memadai sehingga kita mau menghindar pun menjadi bingung mau ke mana karena kami dikejar layaknya paparazi, alhasil kami malah masuk ke toilet sekalian untuk buang air kecil, kondisi toiletnya terlihat tua dan kurang terawat mana bayar pulak, padahal ini destinasi dunia loh, walaupun terminal ini sebenarnya sudah tidak dipakai tapi semestinya dirawat.
Setelah keluar dari toilet dan bertemu Simbok yang sama-sama dari kamar mandi, kita menyusun siasat, akhirnya kami jalan cepat ke belakang area terminal, mencari toko-toko/warung sambil numpang duduk di toko-toko penjual makanan yang depannya ada bus-bus kecil, kami pun berharap bus tersebut yang akan membawa kami ke Gilimanuk, tak lama kemudian kami dihampiri oleh orang yang menawarkan ke Gilimanuk awalnya sih kami masih mikir namun setelah lihat sikon beberapa lama karena tak ada pilihan, kami langsung tembak saja bener tidak tujuannya, terus langsung berangkat tidak, harganya berapa. Dia jawab iya iya doang sih sama harganya 40.000, ya agak tinggi sih harganya jika dibandingkan dengan pengalaman orang di travel blog mereka.
Kami pun masuk ke bus, yang ternyata tidak ada AC dan sepertinya bus ekonomi, persis seperti bus Metromini namun bangkunya jauh lebih empuk, pas kita masuk busnya sih masih tergolong sepi dan kita dikibulin juga ujung-ujungnya berangkatnya lama juga alias ngetem. Tapi ya sudahlah pengalaman, toh gw juga udah biasa, entah deh kalo yang lain apalagi yang biasa high-class, pasti ngoceh terus. Kami duduk di belakang dengan alasan keamanan dan kenyamanan karena kaki bisa selonjor di koridor, kalau di depan agak rawan.
![]() |
| Suasana Bus |
Bus yang kami tumpangi pun akhirnya berangkat menuju Gilimanuk, dengan AC alami dan ekstra musik dari bunyi bannya. Memang perjalanan aman-aman saja, tidak ada pengamen ataupun pengemis, hanya makin jauh bus berjalan yang naik makin banyak sehingga rasanya jadi agak kurang nyaman karena sempit apalagi kami bawa barang.
Untungnya bus tidak mampir ke Terminal Mengwi, kalau tidak sudah seperti pepes deh sudah panas penuh pula. Ya sudah saya nikmati, Simbok tidur beberapa saat karena mau mengisi tenaga sedangkan saya ngobrol sama ibu ku lewat WhatsApp.
Untungnya bus tidak mampir ke Terminal Mengwi, kalau tidak sudah seperti pepes deh sudah panas penuh pula. Ya sudah saya nikmati, Simbok tidur beberapa saat karena mau mengisi tenaga sedangkan saya ngobrol sama ibu ku lewat WhatsApp.
![]() |
| Pemandangan Dari Bus |
Perjalanan ditempuh hampir 3,5 jam dengan pemandangan yang masih cukup alami dan banyak pepohonan rimbun sehingga rasanya menjadi sejuk, serta sesekali ada pemandangan laut, karena jalannya kan memang dipinggir. Padahal dulu waktu saya masih kelas 2 SD, naik mobil dari Banyuwangi ke Hotel Kartika Kuta (sekarang Discovery Kuta) rasanya sudah bosannya luar biasa, sekarang malah bisa menikmati.
Pelabuhan Gilimanuk dan Banyuwangi
Singkat cerita, kami pun tiba di Pelabuhan Gilimanuk, dan sebelum mencapai gedung kita harus melewati koridor yang cukup panjang menuju loket tempat penjualan tiket, harga tiket ferry nya pun cukup murah dan pelabuhannya masih oke lah, seperti terminal bus namun gedungnya terlihat tua.
![]() |
| 1 Lorong menuju gedung, 2 Tempat tiket |
Dan uniknya untuk mencapai kapal kami harus melewati jembatan yang amat panjang, dan karena papan petunjuk atau signage yang tersedia hanya di atas jembatan, ternyata begitu turun ada beberapa kapal yang bersandar di dermaga tanpa ada tulisannya, ya kami asal naik saja yang penting yakin kalau itu ke Banyuwangi dengan bertanya kepada orang.
![]() |
Kapal ferry ini kurang ramah untuk orang tua, karena tangga nya sangat curam dan sempit dan tidak yakin bisa bawa koper ke ruang duduk, ditambah ombak membuat goyang-goyang. Tapi entah mengapa kapalnya kok kecil, beda seperti yang saya naiki dulu, mungkin karena kebetulan dapatnya yang ini.
Tempat duduk di atas bisa dibilang sangat standar, model tempat duduk terminal bus tahun 1980an, tidak ada AC, kebersihan ya so so, musholla kecil, toilet kecil yang tersedia ember dan toilet jongkok, warung makanan, dan televisi serta karaokean dangdut di belakang. Untuk harga segitu saya sih oke oke saja. Sayang pemandangan matahari terbenam di sini tidak terlalu bagus.
![]() |
Jarak tempuh yang dekat sehingga kami tidak menghabiskan banyak waktu di sini, paling hanya satu jam saja kami telah tiba di Banyuwangi, begitu mendarat di daratan kami lapar dan setelah berjalan kaki sebentar sambil mampir di minimarket, akhirnya kami memilih makan nasi goreng dulu di emperan seberang pelabuhan dan harganya murah serta rasanya lumayan, kami menghabiskan waktu agak lama untuk mengobrol dengan Simbok.
Setelah makan malam, saya mengusulkan untuk check-in tiket kereta api terlebih dahulu agar tidak keteteran, Simbok mengiyakan dan kami jalan kaki kira-kira 300 meter dari pelabuhan Gilimanuk ke stasiun, ternyata dari bibir jalan ke dalam gedung stasiun agak jauh karena ada lapangan parkir. Jadi lebih baik kalau bawa barang banyak mending pakai kendaraan sampai dalam terus jangan lupa bayar parkir.
Saat itu, stasiun sedang direnovasi dan komputer check-in hanya ada satu, untung kita sudah cetak duluan, dan terlihat banyak orang yang tidur di stasiun untuk menunggu kereta pagi.
Dari sini, kami langsung ke hotel menggunakan transportasi online, tapi di jalan raya yang agak jauh takut kena zona merah, dan hanya 5 menit kami telah sampai karena jaraknya hanya satu kilometer saja. Kalau tidak salah nama hotelnya Hotel Manyar, kamarnya besar dan kamar mandinya juga sama, sebesar kamar tidur, dengan shower dan toilet berstandar layaknya hotel berbintang (tiga). Walaupun hotel tua namun seperti resor. Harganya berkisar Rp300.000/an dapat sarapan pula, lumayan.
Tips:
Kalau bawa orang tua atau anak kecil, mending pakai mobil saja sekalian entah bawa sendiri atau sewa, jangan pakai transportasi umum seperti ini, bahkan untuk naik ferry pun mending duduk di mobil kalau susah naik tangga.
Update : (Jujur, walaupun sederhana tapi saya sama antusiasnya dengan naik bus di Jepang ke Shirakawa-Go kemarin, padahal bus ini sudah sederhana, tidak pakai AC, sempit, ada calo segala. Beda dengan bus di Jepang yang tempat duduk bernomor, ada USB, nyaman dan tentram.







Komentar
Posting Komentar