Desa Adat Penglipuran
Desa Adat Penglipuran mirip seperti Desa Adat Sade yang berlokasi di Kabupaten Bangli, desa ini masih menurut saya masih menjaga budaya tradisional khas Bali dengan arsitektur yang masih dijaga sedemikian rupa. Untuk info historis atau detailnya bisa melihat di internet karena waktu itu saya tidak ada guide, sayang sekali, namun saya akan memberikan informasi lain yang mungkin berguna.
Kami mulai dari utara yang merupakan ujung Desa Penglipuran dari atas, kami membayar tiket yang cukup murah untuk wisatawan lokal, ketika masuk kami menemukan pura yang bernama Pura Penataran yang biasa digunakan sebagai tempat ibadah untuk penduduk lokal, biasanya setiap jam tertentu terdapat suara Puja Tri Sandya untuk ibadah, nah kebetulan kami pas datang ketika suara tersebut dilantunkan, benar-benar serasa di Bali.
Sekarang per 2019, sebelum memasuki area jalanan/parkiran menuju desa Penglipuran, ada pos dengan payung dan meja kecil yang akan menarik biaya tiket di sini, seperti masuk Ancol sistemnya jadi ada petugas yang akan memberhentikan motor/mobil, pengunjung tinggal sebut berapa orang dewasa/anak yang ikut nanti bayar langsung di sana.
Sekarang per 2019, sebelum memasuki area jalanan/parkiran menuju desa Penglipuran, ada pos dengan payung dan meja kecil yang akan menarik biaya tiket di sini, seperti masuk Ancol sistemnya jadi ada petugas yang akan memberhentikan motor/mobil, pengunjung tinggal sebut berapa orang dewasa/anak yang ikut nanti bayar langsung di sana.
Desa ini mempunyai jalan di tengah yang lurus namun suasananya tenang karena tidak boleh dilewati kendaraan apapun, jadi hanya untuk jalan kaki saja, jalannya agak berundak-undak sedikit tapi orang tua atau anak kecil masih bisa lewat karena medannya tidak begitu sulit, hanya datar-datar saja. Di dalam rumah-rumah ini terdapat toko-toko yang menjual pernak-pernik, warung minum bahkan restoran yang saya pernah coba rasanya enak dan harganya juga relatif tidak mahal serta sebagian besar tidak menjual B2 ataupun daging sapi, jadi win-win solution.
Suasananya benar-benar tentram dan asri serta rapi dan sangat bersih, tidak heran jika desa ini memenangkan penghargaan bergensi seperti Kalpataru dan kalau tidak salah Tripadvisor, sangat Bali sekali suasananya. Dan setiap rumah mempunyai gapura dan arsitektur khas Bali dengan pekarangan di dalamnya, tidak jarang di masing-masing rumah terdapat toko yang dikelola secara swadaya, seperti toko minuman, makanan dan cinderamata. Tapi hati-hati jangan asal masuk ke pekarangan orang karena rumah-rumah tersebut asli ditinggali penduduk asli.
Menurut saya, idealnya kunjungan kemari antara 15 menit -2 jam tergantung kebutuhan, tidak harus mengelilingi keseluruhan desa juga karena bentuknya serupa semua. Bisa saja foto-foto 5 rumah sekaligus, pura, dan gapura terus pulang pun bisa kalau buru-buru, mengellilingi semuanya pun juga bisa.
Toilet di sini terletak di tempat parkir, yang dibagi beberapa titik, kebetulan kami yang di atas toiletnya agak besar, tidak bagus (seperti gedung kelurahan) namun cukup bersih dengan urinoir dan toilet duduk. Setelah puas mendatangi desa adat, kami sekalian ambil motor untuk menuju hutan bambu agar sekalian pulang tidak bolak-balik.
Untuk ke hutan bambu, jaraknya sangat dekat (jalan kaki pun bisa kalau dari parkiran utara), karena letaknya benar-benar bersebelahan dengan Desa Penglipuran, dan yang saya suka dari hutan bambu ini adalah hutan beneran, bukan hutan buatan yang sengaja dibuat untuk atraksi, sehingga terlihat rimba dan keasliannya, dan sebenarnya yang penting adalah teknik pengambilan fotonya yang mesti jago mencari sudut atau angle, kalau tidak jago ya percuma karena hasilnya bisa saja bukannya seperti hutan bambu malah seperti kebon liar. Hutan bambu ini salah satunya adalah akses jalan menuju Desa Penglipuran kalau dari arah Tirta Empul, sehingga secara tidak sadar, kami sebenarnya sudah melalui hutan tersebut tanpa harus menyiapkan waktu lama-lama.
Waktu kunjungan kira-kira bisa sebentar saja walau hanya 10-15 menit pun memungkinkan kalau hanya untuk menikmati jalan merasakan hawanya, jalan sebentar menyusuri hutan, kemudian berfoto-foto dengan beberapa sudut yang berbeda saya rasa sudah cukup, lalu pergi melanjutkan perjalanan .
Menurut saya, objek ini tidak membuang waktu karena satu jalan dengan Desa Penglipuran, bahkan jalan menuju Penglipuran ya melalui hutan bambu tersebut, jadi semestinya tidak butuh waktu lama untuk berkunjung apalagi bisa menikmati sembari berkendara untuk menuju dari/ke Desa Adat Penglipuran menggunakan kendaraan bermotor, kemudian berhenti dan turun sebentar untuk berfoto beberapa kali dan lanjut lagi. Simpel kan?
Serta hutan bambu ini cukup sepandan dan menarik untuk dikunjungi tanpa harus mengorbankan waktu dan tempat lainnya yang harus menyiapkan waktu berjam-jam karena besarnya objek wisata dan jauhnya. Kecuali jika bela-belain ke hutan ini tok ya sangat rugi, kesini ya karena mau ke Desa Penglipuran.
Ulasan dari dolan.plesiran :
- Apakah layak dikunjungi, berapa lama kunjungannya ? Tentu, desa adat ini memiliki arsitektur yang unik dan benar-benar khas Bali.
- Apakah orang tua dan anak-anak bisa kemari? bisa, di sini tergolong bebas, toh juga objeknya mirip semua, jadi jalan melihat-lihat arsitektur sejauh 100 meteran, foto yang banyak, sama masuk ke beberapa area rumah penduduk yang bebas terus pulang juga oke yang penting sudah tahu.
- Apakah harganya masuk akal untuk backpacker? Tentu, karena murah.
- Apakah akses kemari sulit? Tidak, jika menggunakan kendaraan yang nyaman, namun iya jika kendaraan yang dinaiki tidak nyaman mengingat jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Infrastruktur jalan cukup baik, tidak ada halangan atau rintangan. Bus bisa masuk dan parkir, apalagi mobil dan motor ? Namun ke objek wisatanya ya mesti jalan kaki karena tidak ada mobil.
Perjalanan pun lanjut ke penginapan, tetapi mampir sebentar di Goa Gajah karena satu arah pulang menuju penginapan, seperti biasa kami harus menggunakan GPS dengan singgah ke pom bensin, bukannya cepat sampai pom bensin, kami malah dilewati jalan potong dan lagi-lagi kami dilewati sawah namun kali ini jalannya sudah teraspal. Karena perjalanan yang kami tempuh amat jauh dan membosankan dan ditambah teteh merasa mengantuk begitupun juga kami, diperparah bensin yang semakin menipis tetapi tidak menemukan jalan raya membuat kami agak bingung.
Syukurlah, kami menemukan warung di pinggir sawah yang menjual pom bensin portabel, walau harganya lebih mahal tapi sangat membantu karena kalau mengejar pom bensin maka tidak tertutup kemungkinan motor akan mogok di jalan. Kami pun beristirahat dengan memesan minuman.
Sambil duduk-duduk, kamipun mengobrol dengan orang yang punya warung, seorang ibu-ibu sepuh yang kemudian bertanya kepada kami dan agak menggelitik kami, kira-kira seperti ini percakapannya:
Ibu : Adek asal dari mana?Simbok : Saya dan teteh tinggal di Kalimantan, yang ini (saya) tinggal di Jakarta.Ibu : Sekolahnya di mana?Kami terperana, dikira masih sekolah padahal umur sudah cocok memasuki usia menikah.Simbok : Waduh, kami sudah pada kerja bu, kerja di ..... (menjelaskan)Ibu : Loh?! Saya kira masih sekolah, kok mukanya muda sihSaya : Wah saya seneng loh bu kalo ibu bilang gitu ! HeheheheIbu : Waaah hehehe ....
Jadi kami bertiga ini dianggap masih sekolah, padahal umur sudah pantas untuk menikah, apalagi teteh dan Simbok, namun syukurlah kami lebih menikmati masa muda terlebih dahulu.
Ketika kondisi badan sudah kembali fit dan sudah tidak mengantuk, kami izin untuk berangkat melanjutkan perjalanan lagi menuju Goa Gajah, dan sampai jalan raya bagian Ubud, jalan sudah agak macet karena orang yang mau masuk ke Goa Gajah, terutama bus.
Goa Gajah
Goa Gajah sebenarnya adalah objek wisata namun berfungsi sebagai tempat ibadah , dan kalau mau cari informasi historis tentang tempat ini bisa dicari di website pariwisata karena ini bukan website wisata namun sebuah cerita perjalanan, tetapi saya memberikan informasi yang mungkin jauh berguna terutama pintu masuk.
Tips dan Trik, dan Saran (1):
- Jika ditawarkan sewa atau beli sarung oleh ibu-ibu , jangan mau ! Apalagi pakai pakaian sopan. Karena di dalam terdapat penyewaan sarung resmi dan kalau pakai baju sopan, tidak perlu pakai sarung apalagi teteh dan Simbok berhijab.
- Parkir sebisa mungkin dekat pintu masuk, pintu masuk tidak di tengah-tengah parkir, namun di sebelah kanan parkiran, di pojok dekat pintu keluar mobil.
- Sesuai poin satu, pakai baju yang sopan lebih baik daripada ribet pakai sarung, karena mesti naik tangga ke bawah dan ke atas, serta medannya juga berundak-undak.
Setelah pemeriksaan tiket dan pakaian, berikutnya adalah harus turun melalui tangga yang lumayan tinggi untuk turun ke bawah karena tempatnya seperti di bawah lembah/perbukitan, jadi menurut saya kurang cocok untuk membawa orang tua karena akan cepat lelah, juga kursi roda agak mustahil untuk lewat karena tangganya sempit dan agak curam.
Goa Gajah menurut saya lumayan sepandan untuk didatangi kalau kebetulan lewat, karena objek wisatanya pada dasarnya adalah digunakan untuk tempat beribadah, yang menarik adalah ada goa dengan ukiran di luarnya, di dalamnya ada goa kecil yang terdapat peralatan untuk berdoa, mungkin untuk sebagian besar orang, Anda akan merasa kurang menarik.
Selain itu, di sekitar goa ada beberapa tempat yang digunakan untuk beribadah, sebuah kolam (petirtaan), bale-bale, dan pohon besar (itupun bukan objek wisata utama), sebenarnya area ini masih besar hingga ke bawah namun jalannya juga tidak cocok untuk orang tua karena harus melewati tangga yang lebih curam.
Namun di sini juga banyak toko-toko yang menjual cinderamata dan pernak-pernik khas Bali, namun karena berada di objek wisata tentu harganya lebih mahal. Toilet cukup bersih namun sayang banyak yang rusak pada waktu itu.
Ulasan dari dolan.plesiran :
- Apakah layak dikunjungi, berapa lama kunjungannya ? Tentu, kalau lewat daerah Ubud dan sekitarnya
- Apakah orang tua dan anak-anak bisa kemari? kalau kuat bisa, tapi menurut saya tidak, karena harus melalui beberapa tangga yang cukup tinggi dan curam. Makin ke bawah makin curam.
- Apakah harganya masuk akal untuk backpacker? Lumayan.
- Apakah akses kemari sulit? Tidak, jika menggunakan kendaraan yang nyaman, Bus bisa masuk dan parkir, apalagi mobil dan motor ? Hanya saja jangan tergoda oleh orang yang menawarkan sarung karena orang yang berpakaian sopan tidak perlu sarung.
Akhirnya perjalanan pun lanjut ke Denpasar, namun karena sudah sore namun belum sempat makan siang, kami mampir terlebih dahulu ke tempat makan kaki lima yang halal untuk mengisi 'bensin' perut, karena perjalanan dari Ubud ke Denpasar agak jauh. Rasanya enak dan murah sekali.
Selesai makan, perjalanan pun lanjut dengan kemacetan yang panjang, ternyata ada prosesi adat, mungkin pernikahan? Dan sangat ramai dengan orang lokal yang mengikuti prosesi tersebut, sungguh budaya lokal yang bagus karena masih bisa dilestarikan, saya saja sebagai orang Indonesia melihat seperti ini senang apalagi orang luar?
Tiba di daerah Denpasar pada sore hari, menginap di Airy Room yang kamarnya bagus dan murah serta bersih di belakang Sunset Road. Malamnya jalan kaki ke Krisna toko oleh-oleh untuk berbelanja beberapa barang.











Komentar
Posting Komentar