[Mid '18] Bali 3-1 : Teras Padi Tegallalang, Pura Tirta Empul


Teras Padi Tegallalang


Teras padi Tegallalang merupakan sawah yang berbentuk terasering yang unik dengan sistem irigasi khas Bali (Subak) dan sudah termahsyur di luar negeri, namun ketika kami datang, menurut saya tidak terlalu alami, karena mulai banyaknya bangunan-bangunan di atas jalan, kebetulan kami kurang memahami medannya karena baru pertama dan hendak mencoba menanjak ke teras sawah karena rasanya tidak afdol kalau tidak naik.

Add caption

Pas dijalani ternyata medannya sama sekali tidak mudah, harus menuruni tangga terlebih dahulu yang lumayan dalam ke bawah, baru dari bawah harus trekking di jalan yang masih benar-benar tanah, dan itu kami selalu nyaris kepleset dan sepatu kami berlumuran tanah dan lumpur yang sangat tebal, dan tidak jarang saya nyaris jatuh ketika trekking. Mana saya pakai sepatu jalan kaki merek S yang tidak cocok sama sekali.


Medan Yang Sulit


Menurut saya, pemandangan yang bagus ketika mengambil gambar adalah ketika masih trekking di tengah-tengah (belum sampai atas), karena terlihat kontur sawahnya serta masih alami, nah ketika kami telah sampai atas memang bagus tapi sayang banyak bangunan-bangunan kafe yang mengganggu jadi tidak terlihat alaminya di seberang, namun jika pintar mengambil sudut atau angle, pasti hasil fotonya tetap menarik.

Tapi, saya baru sadar justru dari bangunan-bangunan kafe/resto pinggir jalan raya ini mempunyai pemandangan langsung ke arah teras padi Tegallalang yang jauh lebih menarik kalau cuma mau foto tanpa merasakan susahnya trekking naik bukit. Naik bukit pemandangannya malah tidak terlalu bagus ketika di atas. Kalau Anda banyak uang dan sekadar foto ya mending dari bangunan kafe/resto yang di pinggir jalan, lebih bagus tanpa harus bersusah payah malah bisa sambil menikmati minum dan makan, bahkan ada ayunan yang cukup terkenal. Namun ini tidak cocok untuk backpacker.


Namun, kalau jiwa petualang dan backpacker mah kalau tidak merasakan sendiri medannya tidak seru, kalau cuma foto-foto doang mah tidak ada sensasinya karena proses lebih seru. Ketika kami tiba di atas pun rasa sensasinya benar-benar berbeda, letihnya berubah menjadi suatu kesenangan yang luar biasa dan kami lebih menikmati proses pencapaiannya dengan susah payah dan tidak serta merta asal foto-foto doang. Itu baru seni dari liburan. Oh iya pas di atas ada retribusi sukarela untuk pemeliharaan.




Suatu sudut

Dan yang aneh, di atas bukit pun disediakan toilet yang tergolong bagus, toilet duduk dengan washtafel beserta tissue dan sabun walau harus bayar Rp5.000, tapi sepadan walau saya tidak menggunakan.

Toilet


Tips :

  • Tidak banyak waktu? Ingin sekadar dapat foto yang bagus namun ada uang lebih? Datangi saja bangunan kafe atau restoran di pinggir jalan Tegallalang karena mereka punya view bagus. Hanya tetap saja mesti turun tangga sedikit.
  • Kalau memang mau trekking ke teras padinya, pakai sepatu trek atau gunung sekalian garena medannya licin, dan siapkan cadangan pakaian karena bisa saja kotor terkena lumpur. Mending pakai celana pendek kalau laki.
  • Pagi jauh lebih baik karena tidak ramai dan masih segar hawanya.

Ulasan dolan.plesiran :

  • Apakah layak dikunjungi, berapa lama kunjungannya ? Layak, karena objek wisata ini merupakan objek yang terkenal di Bali. Kira-kira lama kunjungan berkisar 1-2,5 jam masih memungkinkan, namun lama perjalanan bisa lebih jika Anda trekking ke atas bukit teras sawahnya.
  • Apakah orang tua dan anak-anak bisa kemari? tidak sama sekali.
  • Tapi orang tua dan anak-anak lebih baik menikmati di restoran/kafe pinggir jalan Tegallalalng karena viewnya bagus. Bisa berfoto dengan latar sawah dan menikmati dari jauh (kalau dari dekat malah tidak terlihat).
  • Apakah harganya masuk akal untuk backpacker? Tentu, karena sukarela, kecuali makan di restoran/kafe yang mempuyai view.
  • Apakah akses kemari sulit? Tidak, jika menggunakan kendaraan yang nyaman, namun iya jika kendaraan yang dinaiki tidak nyaman mengingat jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Infrastruktur jalan cukup baik, tidak ada halangan atau rintangan. Bus bisa masuk dan parkir, apalagi mobil dan motor ?
  • Turistik ? Iya, tapi tidak ramai kalau pagi. Isinya turis asing semua

Pura Tirta Empul


Suatu pura yang cukup terkenal di Bali, karena dekat juga dengan istana kepresidenan Tampak Siring yang sudah tersohor di Indonesia.

Berikut adalah cuplikan singkat dari Wikipedia :

Pura Tirta Empul dibangun disekililing sebuah sumber mata air yang besar pada 962 M selama wangsa Warmadewa(dari abad ke-10 hingga ke-14). Nama pura berasal dari sumber mata air tersebut yang dinamakan "Tirta Empul". Mata air tersebut berasal dari sungai Pakerisan.[3] Pura dibagi menjadi 3 bagian; Jaba Pura (halaman depan), Jaba Tengah (halaman tengah) dan Jeroan (halaman dalam). Jaba Tengah terdiri dari 2 kolam dengan 30 pancuran yang diberi nama sebagai berikut: Pengelukatan, Pebersihan, dan Sudamala serta Pancuran Cetik (racun). Pura ini didedikasikan untuk Dewa Wisnu, nama dewa Hindu untuk kesadaran tertinggi Narayana. Di sisi kiri pura terdapat sebuah bangunan vila modern di atas bukit bernama Istana Tampaksiring, dibangun untuk kunjungan Presiden Sukarno ke Bali pada tahun 1954, yang sekarang digunakan sebagai tempat istirahat bagi tamu-tamu kenegaraan yang penting.

Untuk info jelasnya mungkin bisa lihat di website pariwisata karena selain takutnya tidak akurat, terdapat hal-hal yang sensitif jadi saya takut keliru menafsirkannya, namun saya hanya merasakan pengalaman dari tempat yang saya kunjungi.

Tips :

  • Jangan berpakaian yang kurang sopan untuk masuk ke pura, ingat ini tempat ibadah.
  • Semua wisatawan tanpa terkecuali harus menggunakan sarung yang disediakan di depan sebelum masuk ke area pura.
  • Kalau mau masuk ke kolam, bisa menaruh barang di loker yang telah disediakan (tapi bayar tidaknya kurang tahu)

Sebelum masuk, kami diarahkan untuk memakai sarung yang telah disiapkan oleh pengelola dan gratis, tanpa terkecuali termasuk teteh dan Simbok yang berhijab, apalagi yang menggunakan celana gemes, sebagaimana orang yang mau ibadah ke Pura. Pas masuk kami sempet dipandu oleh pemandu dan juga tukang foto bahwa pura ini mempunyai arti 'air yang menyebur dari dalam tanah', yang merupakan mata air yang suci sehingga banyak pengunjung lokal dan internasional yang berkunjung.




Pura ini mempunyai kolam pemandian (petirtaan) dengan berbagai macam pancuran yang digunakan untuk mengalirkan air suci tersebut ke kolam, biasa digunakan untuk pembersihan atau penyucian diri menggunakan air suci, prosedur tersebut biasa disebut melukat.

Biasanya proses melukat biasa digunakan untuk peribadatan masyarakat Bali beragama Hindu namun sepengamatan saya, kolam petirtaan tidak hanya digunakan untuk masyarakat lokal saja, wisatawan umum lokal dan mancanegara banyak yang melakukan proses melukat ini, saya sih tidak melakukan namun hanya mencuci muka saja.




Di sini ada beberapa area yang sebenarnya bagus untuk foto, seperti gapura yang sangat khas Bali dan arsitektur kolam melukat yang penuh dengan ukiran dan seni. Namun jangan lupa ini tempat ibadah jangan melakukan hal seenaknya.




Di atas area Pura Tirta Empul saya melihat ada bangunan di atas bukit, saya mengira itu restoran atau resor yang mungkin harganya bisa sangat mahal karena menyuguhkan pemandangan langsung ke sini, ternyata bangunan tersebut adalah Istana Tampak Siring ! Istana kepresidenan Republik Indonesia yang terkenal itu ! Saya juga baru sadar ketika melihat gambarnya di internet. Sayang tidak difoto.



Pura Tirta Empul

Untuk toilet umum dalam area pura, cukup baik, standar Indonesia namun masih dapat diterima walaupun bayar. Dan area pura tidak terlalu besar sehingga cocok didatangi oleh orang yang sudah tua, tetapi hati-hati ada undak-undakan tangga sedikit.


Keluar dari area pura, ternyata kami harus diputar-putar melewati labirin toko souvenir yang amat panjang, mungkin area pura tidak terlalu besar tetapi melewati deretan toko tersebut membuat kaki pegal karena lumayan jauh dan tidak ada jalan pintas, itupun keluarnya juga jauh dari tempat parkir motor kami. Akhirnya setelah tiba kami melanjutkan perjalanan ke Desa Adat Penglipuran.




Ulasan dolan.plesiran :

  • Apakah layak dikunjungi, berapa lama kunjungannya ? Layak, karena objek wisata ini merupakan objek yang terkenal di Bali. Kira-kira lama kunjungan berkisar 1-2,5 jam masih memungkinkan, kalau berendam mungkin bisa lebih lama dari itu, tapi normalnya 1,5 jam saja sudah cukup.
  • Apakah orang tua dan anak-anak bisa kemari? Bisa namun ketika keluar agak diputar-putar ke toko oleh-oleh takutnya kecapaian, kursi roda agak susah tetapi masih bisa
  • Apakah harganya masuk akal untuk backpacker? Tentu.
  • Apakah akses kemari sulit? Tidak, jika menggunakan kendaraan yang nyaman, namun iya jika kendaraan yang dinaiki tidak nyaman mengingat jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Infrastruktur jalan cukup baik, tidak ada halangan atau rintangan. Bus bisa masuk dan parkir, apalagi mobil dan motor ? Oke lah
  • Turistik ? Jelas, isinya turis asing semua yang berendam
  • Kalau bisa sih mampir ke Istana Tampak Siring di atas.

Perjalanan pun berlanjut ke Desa Adat Penglipuran.

Komentar