[Mid '18] Bali 2 : Miskomunikasi, Pura Ulun Danu Beratan dan Ayam Betutu Halal, Nyasar Karena GPS


Saya hanya menceritakan kisah dan pengalaman beserta tips (terutama
aksesibilitas), untuk detail/sejarah objek wisata bisa dilihat di website
yang relevan)





Saya benar-benar merasakan kedamaian di Ubud walaupun hanya menginap di guest house yang besar, namun tidak ada televisi dan pendingin ruangan, apalagi saya tidur sendirian sehingga saya merasa kedamaian namun sayang tempatnya agak horor karena seperti rumah tua, namun harganya tergolong murah (sekali).

Untung lah selama tiga hari di Bali kami tidak membayar sewa motor, karena Simbok mempunyai teman yang bisa meminjamkan dua buah motor untuk berpetualang. Saya bersama Simbok, dan teteh sendirian.

Nah di sini letak miskomunikasinya, dan perlu diketahui, di sini banyak proyek yang di namakan Bali Mandara yang diprakasai oleh mantan gubernur Bali Made Pastika, yang paling terkenal adalah Tol Bali Mandara.

Nah Simbok ini mengira bahwa temannya bekerja di RS Bali Mandara, kamipun naik transportasi online (yang kebetulan mudah mencarinya walau pagi-pagi di Ubud) dari Ubud menuju RS Bali Mandara di Sanur untuk mengambil motor tersebut, ketika tiba di RS tersebut, kami agak kagum karena gedung rumah sakit daerah namun arsitektur dan fasilitasnya bagus sekali, suasananya seperti hotel berbintang di Bali.





Interior RS Bali Mandara

Singkat cerita, kami sudah menunggu lama tetapi orangnya tidak kunjung datang karena kami hanya berkomunikasi lewat chat karena takut mengganggu dia kerja, nah setelah ditelepon alangkah terkejutnya kami ternyata yang dimaksud RS Mata Bali Mandara yang letaknya ternyata lebih dekat dari Ubud karena berada di pusat kota Denpasar, sedangkan RS Bali Mandara terletak di Sanur.


Jadi, mau tidak mau kita pesan transportasi online lagi menuju ke RS Mata Bali Mandara, dan jaraknya lumayan jauh juga dari RS Bali Mandara. Dan untung kami orangnya tidak pernah menyalahkan siapa-siapa satu sama lain, malah menurut saya adanya kejadian ini malah ada cerita yang unik dan menambah khasanah pengalaman dan juga wajar lah kalau orang tidak tahu apalagi kami sama-sama orang daerah lain. (Coba kalau saya sama keluarga besar, habis saya dimaki).


Akhirnya singkat cerita kami tiba di RS Mata Bali Mandara di Denpasar , suasanya terlihat lebih kepada rumah sakit beneran namun masih modern karena agak baru, setelah bertemu temen Simbok yang sebut saja namanya Ayu, kenalan sebentar, basa-basi sebentar lalu langsung tancap gas mencari makan pagi karena kami belum makan sama sekali, sebelumnya kami memastikan motor ini dalam kondisi prima, dengan mengisi angin dan bensin terlebih dahulu baru mencari makan, dan pilihan makan pagi jatuh kepada soto lamongan yang alhamdulillah harganya relatif murah, kami di sini selalu mencari yang halal.


Setelah makan pagi, perjalanan dilanjutkan ke penginapan untuk mengambil barang yang ketinggalan lalu tancap gas ke Pura Ulun Danu.

Sebenarnya, jarak objek wisata yang kami kunjungi juga lumayan jauh walau tidak sejauh di Lombok kemarin, tetapi jalanan di Bali tergolong sempit sehingga kita serimg terjebak macet dan ekstra waspada dengan mobil berukuran besar serta jalan yang naik turun bahkan sekali waktu ada acara pernikahan yang membuat jarak tempuh semakin lama.

Proses perjalanannya menurut saya menarik, seperti melewati persawahan, hutan yang lebat dan melihat anak-anak sekolah pulang yang terlihat masih polos-polos belum terkontaminasi racun pergaulan bebas, serta beberapa acara seperti pernikahan. Jalannya sebenarnya lurus-lurus saja, namun begitu mengarah ke pura jalanan mulai berkelok-kelok karena naik ke dataran tinggi, dan hawanya lumayan dingin, oleh sebab itu pastikan kalau motoran jangan lupa pakai jaket. Namun kalau dengan mobil pasti lebih nyaman.







Pura Ulun Danu Beratan

Tiba di sini, tujuan pertama yang saya kunjungi adalah toilet karena jarak yang jauh serta hawa dingin membuat kantung kemih menjadi beser, kondisi toilet cukup baik dan standar "Indonesia", karena merupakan objek wisata terkenal.

Kemudian kami membeli tiket untuk masuk ke dalam, waktu itu harganya Rp20.000 untuk lokal (tidak tahu kalau untuk wisatawan asing) yang menurut saya cukup terjangkau untuk wisatawan backpacker.

Ada cerita menarik di sini, ketika mau bayar pakai uang Rp50.000 bergambar I Gusti Ngurah Rai karena mau pecah uang buat toilet, saya pun langsung ditahan sama travelmate saya karena uang ini ternyata ada hubungannya sama tempat ini, usut punya usut ternyata uang Rp50.000 an versi lama gambarnya adalah pura ini. Wah baru sadar juga.




Pura ini menjadi inspirasi uang Rp50.000,-

Begitu masuk ke dalam area pura, kami langsung disuguhi kebun yang luas dengan beberapa tempat yang mungkin biasa digunakan untuk berdoa, namun maafkan saya jika harus mengutip dari internet karena saya tidak menemukan informasi apa-apa waktu di sini, namun semua foto yang disuguhkan asli saya sendiri yang foto.



Salah Satu Titik Foto

Menurut sumber yang saya baca dari suatu laman internet (Indonesia Kaya) secara harfiah “pura ulun danu” berarti di pura di atas danau dan dapat dijabarkan sebagai pura yang didirikan sebagai tempat pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan dewa-dewa pemelihara suatu danau. Beberapa lontar menyebutkan Pura Ulun Danu Beratan menjadi tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widhi dalam prabawanya sebagai Dewa Kemakmuran. Pura ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan dewi yang bersemayam di Danau Beratan, yaitu Dewi Laksmi – yang merupakan dewi kesuburan dan keindahan. Selain itu, keberadaan Danau Beratan sebagai sumber air bagi irigasi pertanian untuk areal sekitar membuatnya menyandang status Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura umum tempat persembahyangan umat Hindu dari lintas daerah, golongan, dan profesi.
Fungsi Pura Ulun Danu sebagai tempat pemujaan diwujudkan dengan keberadaan beberapa bangunan pemujaan/pelinggih. Di antara pelinggih tersebut, terdapat dua bangunan – yaitu Palebahan Pura Tengahing Segara dan Palebahan Palinggih Lingga Petak/Ulun Danu yang posisinya menjorok ke tengah danau. Posisi yang unik dari kedua bangunan suci ini jarang ditemui di pura ulun danu yang didirikan di danau-danau lainnya di Bali. Hal ini membuat kedua bangunan suci di tengah Danau Beratan ini tidak saja memiliki nilai secara spiritual tetapi juga nilai keindahan yang tinggi.
Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu dari banyak daerah di sekitarnya, Pura Ulun Danu Beratan memang telah menjadi pusat daya tarik bagi pariwisata di Bedugul. Daya tarik utama dari kompleks pura ini tak lain adalah Pelinggih Telengin Segara yang berwujud meru bertumpang 11 dan Pelinggih Lingga Ulun Danu yang berwujud meru bertumpang tiga. Posisi serta latar panorama alam yang mengelilingi kedua bangunan suci ini membuatnya memiliki nilai estetika tinggi untuk diabadikan. Hal inilah yang mendorong pemerintah setempat untuk mengabadikan daya tarik wisata Bedugul ini dalam uang pecahan lima puluh ribu rupiah. [Ardee/IndonesiaKaya](Sumber : indonesiakaya.com)

Area pura mempunyai beberapa area yang sebenarnya menarik, namun ada tempat yang tidak diperbolehkan masuk jika ada wanita yang sedang datang bulan, jadi lebih baik jika menyesuaikan waktu kedatangan, dan yang pasti ikuti peraturan yang ada jangan coba-coba melanggar, apalagi di tempat suci atau tempat untuk ibadah, dan yang pasti gunakan pakaian yang sopan, jangan pakai baju yang tidak pantas. Hormati aturan jangan jadi turis yang menyebalkan.



Pura Ulun Danu Beratan

Di sini terdapat beberapa tempat makan bahkan restoran yang sepertinya mahal karena terlihat paling elit di antara bangunan lain, ketika keluar ke arah parkiran seperti biasa, banyak penjual cindermata atau souvenir khas Bali yang mungkin harganya bisa lebih tinggi, kalau bisa menawar mungkin lebih baik.

Ulasan dolan.plesiran :

  • Apakah layak dikunjungi, berapa lama kunjungannya ? Oh jelas, karena objek wisata ini merupakan objek yang terkenal di Bali, bahkan di dunia karena setiap iklan pariwisata Bali pasti gambarnya adalah Pura Ulun Danu. Kira-kira lama kunjungan berkisar 1-2 jam masih memungkinkan, namun lama perjalanan bisa lebih
  • Apakah orang tua dan anak-anak bisa kemari? bisa, karena menurut saya objeknya tidak terlalu besar dan medannya rata-rata datar, kalaupun berundak juga ada jalan landai (ramp).
  • Apakah harganya masuk akal untuk backpacker? Tentu, karena tergolong murah jadi masih bisa terjangkau.
  • Apakah akses kemari sulit? Tidak, jika menggunakan kendaraan yang nyaman, namun iya jika kendaraan yang dinaiki tidak nyaman mengingat jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Infrastruktur jalan cukup baik, tidak ada halangan atau rintangan. Bus bisa masuk dan parkir, apalagi mobil dan motor ?
  • Turistik ? Jelas sekali.
  • Berpakaian yang sopan, kadang heran banyak orang ke tempat yang sakral/suci tetapi pakaiannya tidak pantas.



Sudut yang bagus

Karena perut sudah dangdutan (keroncongan sudah mainstream), maka kami pun mencari makan siang, dan pilihan jatuh kepada ayam betutu yang tepat di seberang objek wisata Pura Ulun Danu, dan yang membuat kami semakin mantap kemari adalah restoran ini halal, jadi kami berani untuk masuk kemari,

Sayang ketika masuk restoran, ternyata sepi pengunjung saya tidak tahu kenapa, semestinya makanan halal tentunya bisa lebih ramai karena jarang di Bali, namun karena daerah Bedugul banyak yang Muslim jadi tidak sulit mencari makanan halal sebenarnya. Restorannya besar dan terdapat musholla dan toilet yang bersih (walau bayar, di sini semua serba bayar).

Kami memesan ayam betutu yang standar, pas datang ternyata ayam tersebut dibungkus dengan daun pisang, dan rasanya juga enak, sambalnya juga pas .



Ayam Betutu

(Brr udah ditulis malah hilang...)

Setelah mengisi perut dan mengisi tenaga kembali, kami kembali lagi ke arah Ubud, rencananya mau melihat senja di sawah teras Tegallalang, namun belum separuh perjalanan ternyata turun hujan yang amat deraslah, mau tidak mau kami harus melipir terlebih dahulu untuk berteduh, kami berteduh di suatu bank BUMN


Di seberang jalan, kami melihat ada sebuah minimarket merek terkemuka di pulau Bali, mumpung hujan masih deras kami memutuskan untuk nongkrong sebentar sekalian mampir ke toilet karena Simbok dan saya juga kebelet pipis karena suhu yang dingin. Begitu masuk minimarket alangkah terkejutnya kami ternyata toiletnya bersih dan kering, toilet duduk beserta washtafel, serta tersedia sabun dan tissue, sangat kontras dengan minimarket terkemuka di Indonesia yang menyediakan toilet tidak manusiawi padahal untuk pengunjung (entah kalau toilet untuk karyawannya).


Selesai urusan toilet, kami pun membeli minuman hangat dan beberapa cemilan untuk nongkrong karena hujan yang amat deraslah belum juga reda, sekalian menikmati waktu-waktu di Bali. Ketika hujan reda, kami pun melanjutkan tancap gas menuju Ubud, oh iya sejalan dengan ini ada objek wisata hutan monyet Sangeh (pake 'h' ).



Suasana Jalan Menuju Ubud

Simbok beserta teteh menyetir kecepatan tinggi dengan harapan bisa mengejar senja di Tegallalang, namun karena kami terlalu percaya dengan navigasi GPS, kami diarahkan bukan ke jalan biasa yang memotong jalan yang secara teori memang lebih dekat, namun ketika dilewati ternyata GPS mengarahkan kami ke sawah, benar-benar tengah sawah yang kiri-kanannya tidak ada bangunan apa-apa, kamipun masih merasa pede dan berjalan dengan cepat apalagi Simbok kebelet pipis lagi karena dia emang beseran, jadi dengan harapan semakin cepat tujuan maka semakin bagus.

Celakanya, di tengah jalan yang kami lewati ternyata ada mobil bak yang sedang menurunkan/mengangkut gabah padi, dan mereka benar-benar menutup jalan sehingga kami mau minggir pun tidak bisa karena belakangnya juga ada truk yang mau lewat tapi terhalang, di sini posisi sudah tidak enak karena tidak bisa bergerak, akhirnya kami memutuskan untuk balik arah




Bayangkan saja medannya seperti ini

Ditambah lagi Simbok sudah diujung tanduk, akhirnya di jalan sawah yang tidak rata kami jalan ngebut, dan untuk menghindari kejadian di Lombok tempo hari, saya akhirnya stand by untuk antisipasi jika motor tidak stabil, dan benar saja, motor agak oleng namun untungnya Simbok sigap dan saya pun juga sigap jadi motor tidak jatuh karena kaki sudah pasang kuda-kuda.

Gara-gara navigasi GPS yang menyesatkan, bukannya jadi cepat malah semakin lama dan memakan waktu karena harus muter lagi dan jaraknya kira-kira 4 KM utk kembali ke jalan raya, dan syukurlah setelah kembali ke jalan yang benar dan harus menempuh berkilo-kilo untuk mencari tempat buang hajat, akhirnya kami menemukan pom bensin beserta toilet yang menurut saya aneh, entah pertimbangannya apa menaruh kloset di tengah ruangan.

Menurut Gw Aneh


Kemudian, kami mampir ke supermarket di seberang hotel untuk membeli sarapan dan bahan makanan lainnya untuk di penginapan dan beberapa pernak-pernik. Karena di Ubud susah cari makan (yang halal dan murah), kami pun makan di sebuah warung makan dan rasanya lumayan. Saat itu warung makan menayangkan siaran piala dunia Russia di televisi.


Alhasil, rencana kali ini banyak yang gagal tetapi banyak cerita yang menarik, bahkan lebih menarik proses perjalanannya dibanding di tempat wisatanya.

Sekian perjalanan untuk hari ini.

Komentar